APAKAH PENDIDIK DAN PESERTA DIDIK DALAM PENDIDIKAN PROFETIK ITU?


Gb. Ilustrasi
         Assalamualakum, sahabat ulat dalam pendidikan profetik masih ada hal yang belum diutarakan salah satunya pendidiknya itu sendiri dan juga peserta didiknya, baik mari kita lanjut saja,.

1.      Pendidik dalam Pendidikan Profetik
Pendidik adalah komponen yang sangat penting dalam sistem kependidikan, karena ia yang mengantarkan anak didik pada tujuan yang telah ditentukan, bersama komponen yang lain terkait dan lebih bersifat komplementatif. Dalam hal ini pendidik dalam terminologi pendidikan Islam menurut Al-Ghazali diambil dari berbagai kata seperti, al-mualim (guru), al-mudarris (pengajar), al-muaddib (pendidik), dan al walid (orang tua) (Rosyadi, 2009:174).
 Lebih lanjut, Al-Ghazali dalam Rosyadi (2009:175) mengatakan:

seorang guru adalah berurusan langsung dengan hati dan jiwa manusia, dan wujud yang paling mulia dimuka bumi ini adalah jenis-jenis manusia. Bagian yang paling mulia dari bagian-bagian (jauhar) tubuh manusia adalah hainya, sedangkan guru adalah menyempurnakan, membersihkan, menyucikan, dan membawakan hati itu untuk mendekat kepada Allah Swt.  

Senada dengan pernyataan diatas, Amir Daein Indrakusumah mengungkapkan bahwa:

Tugas guru adalah tugas luhur, tugas mulia. Tugas mendidik tunas-tunas bangsa, tugas yang patut dijunjung tinggi. Dan di sinilah pula letak rasa kebahagiaan sebagai seorang guru. Kebanggaan bahwa dirinya telah merasa ikut serta memberikan andil dalam pembentukan pribadi-pribadi tunas-tunas bangsa (Rosyadi, 2009:175).

Jika disimpulkan, maka seorang guru itu adalah seorang yang mempunyai tugas mulia karena dapat mencerdaskan, mendidik, dan juga dapat membentuk jati diri peserta didik
a.   Tugas Pendidik
Ada beberapa pernyataan tentang tugas pendidik menurut Rosyadi (2009:180) antara lain:
1.        Mengetahui karakter murid,
2.    Guru harus selalu berusaha meningkatkan keahliannya, baik dalam bidang yang diajarkannya maupun dalam cara mengajarkannya.
3.        Guru harus mengamalkan ilmunya, jangan berbuat berlawanan dengan ilmu yang diajarkannya.
Al-Gazhali dalam Rosyadi (2009:181) menjelaskan tugas pendidik sebagai berikut:
1.        Mengikuti jejak Rosul dalam tugas dan kewajibannya.
Maksudnya seorang guru hendaknya menjadi pengganti Rasululloh Saw yang mewarisi ajaran-ajarannya dan memperjuangkan dalam kehidupan masyarakat di segala penjuru dunia, demikian pula harus mencerminkan ajaran-ajarannya, sesuai dengan ahlak Rasululloh Saw.
2.        Menjadi Teladan bagi anak didik
Maksudnya seorang guru hendaklah mengerjakan apa yang diperintahkan menjauhi apa yang dilarang dan mengamalkan segala ilmu pengetahuan yang diajarkannya, karena segala aktivitas guru akan menjadi teladan bagi anak didik.
3.        Menghormati kode etik guru
Al-Ghazali mengatakan seorang guru yang memegang salah satu mata pelajaran, sebaiknya jangan menjelek-jelekan mata pelajaran lainnya.
Hal tersebut jika di simpulkan bahwa sejak beratus tahun silam Al-Gazhali  sudah membuat sebuah kode etik yang relevansi penerapannya sama dengan teori-teori di pendidikan pada masa sekarang.

       b.  Syarat Pendidik
Syarat-syarat pendidik dalam hal ini dalam pandangan islam yang kedudukannya sebagai warasatul anbiya. Seorang pendidik harus orang yang baik, saleh, yang merasa bahwa menjadi tanggung jawabnyalah melatih para muridnya agar menjadi orang-orang muslim yang baik, yang akan menjalani kehidupan mereka sesuai dengan etika yang diajarkan Islam, yang perbuatannya akan dijadikan menjadi teladan anak didiknya.
Menurut Prof. Dr. Hadari Badawi dalam Rosyadi (2009:184) syarat-syarat pendidik sebagai berikut:
1.        Berwibawa
Wibawa diartikan sebagai sikap atau penampilan yang dapat menimbulkan rasa segan dan hormat, sehingga anak didik merasa memperoleh pengayoman dan perlindungan.

2.        Memiliki sikap iklas dan pengabdian
Sikap tulus dari hati yang rela berkorban untuk anak didik, yang diwarnai dengan kejujuran, keterbukaan dan kesabaran. Sikap tulus merupakan motivasi untuk melakukan pengabdian dalam mengemban peranan sebagai pendidik.
3.        Keteladanan
Seorang pendidik harus mempunyai keteladanan dan memberikan contoh pribadi yang unggul.
4.        Syarat yang paling utama sebagai seorang pendidik adalah kelancaran lidahnya yang didapatnya dengan jalan membiasakan diri berdialog dan bermusyawarah. Jadi ada sistem keterbukaan yang lapang bagi seorang pendidik, disamping berdialog dengan hati yang jernih, terbuka untuk dikritik (konstruktif).

         c.  Sifat-sifat Pendidik
Menurut Al-Abrasyi (1987) dalam Rosyadi (2009:188) menyebutkan sifat-sifat pendidik dalam pendidikan islam sebagai berikut:
1.        Zuhud, tidak mengutamakan materi dan mengajar karena mencari keridhaan Allah Swt.
Zuhud yang dimaksud adalah bukan tidak mau menerima imbalan materi. Menerima gaji tidak bertentangan dengan maksud mencari keridhaan Allah Swt dan zuhud di dunia ini boleh, karena seorang alim betapapun zuhud dalam kesederhanaannya memerlukan juga uang untuk menutupi kehidupannya.
2.        Kebersihan
Seorang guru harus bersih tubuhnya jauh dari dosa dan kesalahan, bersih jiwa, terhindar dari dosa besar, sifat riya, dengki, permusuhan dan sebagainya.
3.        Ikhlas dalam pekerjaan
Keikhlasan dan kejujuran seorang guru didalam pekerjaannya merupakan jalan terbaik ke arah suksesnya didalam tugas dan sukses muridnya.
4.        Pemaaf
Seorang guru harus bersifat pemaaf terhadap muridnya, sanggup menahan diri, menahan kemarahan, lapang hati, sabar, berkepribadian dan mempunyai harga diri.
5.        Harus mengetahui tabiat murid
Guru harus mengetahui tabiat pembawaan, adat istiadat, dan pemikiran murid agar tidak salah arah dalam mendidik anak-anak.
            Selanjutnya DR. Ahmad Tafsir dalam Rosyadi (2009:191) mengungkapkan bahwa sekiranya sifat-sifat seorang guru adalah sebagai berikut:
1.        Kasih sayang
2.        Senang memberi nasehat
3.        Senang memberi peringatan
4.        Senang melarang muridnya melakukan hal yang tidak baik.
5.        Bijak dalam memilih bahan atau materi pelajaran yang sesuai dengan lingkungan murid.
6.        Hormat pada pelajaran lain yang bukan pegangannya.
7.        Bijak dalam memilih pelajaran yang sesuai dengan taraf kecerdasan murid.
8.        Mementingkan berfikir dan ijtihad.
9.        Jujur dalam keilmuan.
10.    Adil dalam segala hal.
Harus diakui bahwa antara tugas, syarat dan sifat guru sulit untuk diartikan secara tegas. Diantara ketiganya adalah saling mengisi seperti syarat maka diisi oleh sifat sehingga sifat tersebut sebagai pelengkap dari sebuah syarat. Sedangkan tugas tersebut adalah sebagai prakteknya sebagai dari persyaratan yang dipenuhi sebagai seorang guru, intinya terkait dengan profesionalitas guru dalam interaksi edukatif, baik didalam maupun diluar kelas.

2.             Anak Didik dalam Pendidikan Profetik
Menurut Al-Ghazali dalam Rosyadi (2009:197) secara implisit periodisasi perkembangan manusia sebagai berikut:
a.         Al-Janin, yaitu tingkat anak yang berada dalam kandungan. Adanya kehidupan setelah diberi ruh oleh Allah SWT.
b.        Al-Thifl, yaitu tingkat anak-anak yang waktunya diisi dengan memperbanyak latihan kebiasaan sehingga mengetahui hal-hal baik dan buruk.
c.         Al-Tamyiz, yaitu tingkat anak-anak yang telah dapat membedakan sesuatu yang baik dan buruk, bahkan akal pikirannya telah berkembang sedemikian rupa sehingga dapat memahami ilmu dharuri.
d.        Al-Aqil, yaitu tingkat manusia yang telah berakal sempurna bahkan akal pikirannya telah berkembang sedemikian rupa sehingga dapat memahami ilmu dharuri.
e.         Al-Auliya dan al-Anbiya, yaitu tingkat tertinggi pada perkembangan manusia. Para nabi mendapatkan ilmu dari Tuhan malalui malaikat yaitu ilmu wahyu. Dan para wali mendapatkan ilmu ilham atau ilmu laduni yang tidak diketahui bagaimana dan melalui jalan mana ilmu itu didapatkan.
Dari uraian diatas, bahwa manusia lahir dengan membawa muatan nilai yang signifikan dalam totalitas kehidupannya yang disebut dengan potensi (fitrah). 
Selanjutnya, dalam rangka menciptakan sebuah iklim yang kondusif dalam interaksi pada suatu kegiatan pembelajaran maka ada beberapa kewajiban peserta didik yang harus diperhatikan (Rosyadi, 2009:202), yaitu:
a.         Sebelum mulai belajar, siswa harus terlebih dahulu membersihkan hatinya dari segala sifat yang buruk, karena belajar dan mengajar itu dianggap sebagai ibadah. Ibadah tidak sah kecuali dengan hati suci, berhias dengan moral yang baik.
b.        Dengan belajar itu ia bermaksud hendak mengisi jiwanya dengan fadilah, mendekatkan diri kepada Allah bukanlah bermaksud menonjolkan diri, berbangga, dan gagah-gagahan.
c.         Bersedia mencari ilmu, termasuk meinggalkan keluarga dan tanah air, dengan tidak ragu-ragu bepergian ke tempat-tempat yang paling jauh sekalipun bila dikehendaki demi mendatangi guru.
d.        Jangan selalu sering berganti guru, tetapi haruslah ia berfikir panjang dulu sebelum bertindak hendak mengganti guru.
e.         Hendaklah ia menghormati guru dan memuliakanya serta mengagungkannya karena Allah, dan berdaya upaya pula menyenangkan hati guru dengan cara yang baik.
f.         Jangan merepotkan guru dengan banyak pertanyaan, jangan meletihkan dia untuk menjawab, jangan berjalan dihadapannya, jangan duduk ditempat duduknya, dan jangan mulai berbicara kecuali setelah mendapat izin dari guru.
g.        Jangan membuka rahasia guru, jangan menipu guru, jangan pula minta pada guru membukakan rahasianya, diterima pernyataan maaf dari guru bila selip lidahnya.
h.        Bersungguh-sungguh dan tekun belajar, belajar siang malam untuk memperoleh ilmu pengetahuan, dengan terlebih dahulu mencari ilmu yang lebih penting.
i.          Jika saling mencintai dan menjunjung persaudaraan, haruslah menyinari pergaulan antara siswa sehingga mereka merupakan anak-anak sebapak.
j.          Siswa harus terlebih dahulu memberi salam kepada gurunya, mengurangi percakapan dihadapan guru, jangan mengatakan kata-kata yang tidak pantas kepada guru.
k.        Hendaklah siswa itu tekun belajar, mengulangi pelajarannya diwaktu senja dan menjelang subuh. Waktu antara Isya dan makan sahur itu ada waktu yang penuh berkah.
l.          Bertekad untuk belajar hingga akhir umur, jangan meremehkan suatu cabang ilmu, tetapi hendaklah menganggap bahwa setiap ilmu ada faedahnya, jangan meniru-niru apa yang didengarnya dari orang-orang yang terdahulu mengkritik dan merendahkan sebagian ilmu mantiq dan filsafat.
Dengan redaksi yang berbeda Al-Ghazali dalam Rosyadi (2009:203) mengemukakan empat kewajiban anak didik, yaitu:
a.         Mendahulukan kesucian jiwa
Belajar dan mengajar adalah sama dengan ibadah solat, dan solat tidaklah sah kecuali dengan menghilangkan hadast dan najis, maka demikian pula dengan mencari ilmu, mula-mula harus menghilangkan sifat-sifat tercela seperti; dengki, iri, takabur, menipu, angkuh dan sebagainya.
b.        Bersedia merantau untuk mencari ilmu pengetahuan.
Maksudnya adalah untuk mencurahkan segala tenaga, jiwa, raga dan pikiran agar dapat berkonsentrasi sepenuhnya demi ilmu pengetahuan.
c.         Jangan menyombongkan ilmunya dengan menentang guru.
Maksudnya seorang anak didik janganlah sombong ketika ilmunya sudah melebihi gurunya tetapi harus tetap bersikap sopan dan santun.

d.        Mengetahui kedudukan ilmu pengetahuan.
Maksudnya adalah seorang pelajar harus bisa mengetahui manakah ilmu pengetahuan yang lebih penting dicari terlebih dahulu lalu selanjutnya ilmu yang lain sebagai peengkap ilmu tersebut.
Bahkan lebih lanjut Al-Ghazali dalam Rosyadi (2009:207) menjelaskan etika anak didik terhadap pendidikan dalam Bidayatul Hidayah yang meliputi 13 aturan, yaitu:
a.       Jika berkunjung ke rumah guru harus menghormat dan menyampaikan salam.
b.      Jangan banyak bicara dihadapan guru.
c.       Jangan bicara jika tidak diajak bicara oleh guru.
d.      Jangan bertanya jika belum diberi izin lebih dahulu.
e.       Jangan sekali-kali menegur ucapan guru, seperti, katanya fulan demikian, tetapi berbeda dengan tuan guru.
f.       jangan mengisyarati guru, yang dapat memberikan perasaan khilaf pada pendapat guru. Sebab yang demikian itu dapat melahirkan anggapan bahwa murid lebih besar dari guru.
g.      Jangan berunding dengan temanmu ditempat duduknya, atau bericara dengan guru sambil tertawa tidak sopan.
h.      Jika duduk dihadapan guru jangan menoleh, tetapi duduklah dengan menundukan kepala dan tawadhu sebagaimana ketika melakukan solat.
i.        Jangan banyak bertanya sewaktu guru kelihatan bosan atau kurang enak.
j.        Sewaktu guru sedang berdiri, murid harus berdiri dengan memberikn penghormatan kepadanya.
k.      Sewaktu guru berdiri dan sudah akan pergi jangan sampai dihentikan hanya sekedar perlu bertanya.
l.        Jangan sekali-kali bertanya sesuatu kepada guru ditengah jalan, tapi sabarlah nanti setelah sampai di rumah.
m.    Jangan sekali-kali suuzhzhan (berpretensi buruk) terhadap guru mengenai tindakannya yang kelihatannya mungkar atau tidak diridhai Allah menurut pandangan murid. Sebab guru lebih mengerti rahasia-rahasia yang terkandung dalam tindakannya.
Apabila pandangan Al-Ghazali tersebut dibandingkan dengan pendidikan modern di Indonesia, nampaknya masih ada relevansinya, karena masyarakat Indonesia masih menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan norma-norma pergaulan sosial kemasyarakatan.  Apalagi dengan kondisi pergaulan remaja pada zaman now ini sangat rentan sekali kearah negatif setidaknya jika kita kembalikan kembali nilai-nilai pendidikan profetik yang pada penjelasan diatas lebih cenderung kepada nilai-nilai keislaman, insya allah sikap dan moral bangsa indonesia lebih baik lagi karena sejatinya sebuah pendidikan yang baik itu mengubah sikap dan moral menjadi lebih baik, tentunya yang terbaik adalah menjadikan manusia super yaitu yang pintar secara akademis dan mempunyai akhlak yang mulia. mudah-mudahan bermanfaat sahabat ulat,.wassalam..

Sumber Buku Rosyadi, Khoiron. 2009. Pendidikan Profetik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar 


Posting Komentar

0 Komentar

Penayangan bulan lalu

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Pengikut

Hanya Ada satu Ulat yang bermanfaat dan bersahabat yaitu Sahabat Ulat>>>Stay Safe, Keep Clean,Social Distancing, Fight Covid-19