PROFESIONALISME KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH


Ilustrasi gambar

Bagi sahabat ulat yang pengen jadi kepala sekolah, ini ada iseng-iseng makalah tentang kepemimpinan kepala sekolah disini dibahas apakah kepemimpinan,  apakah profesionalisme, tentunya mudah-mudahan bermanfaat,..

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kepala sekolah sebagai seorang pemimpin memiliki sesuatu peran dalam
sistem  kelembagaan  pendidikan  tertentu,  namun  seseorang  dalam  peran  formal belum  tentu  memilki  keterampilan  kepemimpinan  dan  belum  tentu  mampu memimpin. Sedangkan kepemimpinan kepala sekolah pada dasarnya berhubungan dengan  keterampilan,  kecakapan,  dan  tingkat  pengaruh  yang  dimiliki  seseorang, karena itu kepemimpinan kepala sekolah bisa saja dimiliki oleh orang yang bukan kepala  sekolah. 
Sedangkan  konsep  memimpin  digunakan  dalam  konteks  hasil peran seseorang khususnya kepala sekolah dalam kelembagaan pendidikan tertentu yang berkaitan dengan kemampuan mempengaruhi orang lain dengan berbagai cara.  Memang  benar  bahwa  setiap  pimpinan  adalah  seorang  kepala  atau  atasan dari sekelompok orang sebagai bawahannya yang harus digerakkan, sehingga secara bersama-sama  dapat  memberikan  pengabdian  dan  sumbangsihnya  kepada organisasi,  terutama  dalam  cara  bekerja  yang  efisien,  efektif,  ekonomis,  dan produktif.  Seorang  kepala  sekolah  dalam  kelembagaan  pendidikannya  mempunyai peran yang sangat strategis dalam menumbuhkan, memelihara dan mengembangkan iklim yang kooperatif dalam kehidupan di sekolahnya. 
Tantangan  bagi  seorang  kepala  sekolah  adalah  bagaimana  menjadi pendorong  atau  pelopor  perubahan  kelembagaan  sekolah  yang  dipimpinnya. Menurut  Blachard  dalam Syafaruddin (2002: 62) bahwa pengembangan  organisasi  dan produktivitasnya  dicapai  dari  buah  kepemimpinan  yang  efektif.  Hal  itu  akan menghasilkan mutu secara berkelanjutan dalam lembaga pendidikan.  Memang  benar  bahwa  kepemimpinan  kepala  sekolah  dalam  sistem pendidikan  sangatlah  penting  dalam  mengejar  mutu  yang  menjadi  harapan kelembagaan  pendidikan  sekarang  ini.  Tentu  saja  kelembagaan  pendidikan  hanya akan  maju  bila  dipimpin  oleh  mereka  yang  visioner,  memiliki  keterampilan manajerial,  serta  integritas  kepribadian  dalam  melakukan  tugasnya  dengan  niatan ibadah  kepadaNya.  Setiap  kepala  sekolah  harus  berkeinginan  untuk  mengarahkan organisasinya  ke  dalam  paradigma  baru  yang  penuh  ketidakpastian  sehingga memerlukan  ketekunan  dan  keikhlasan  untuk  mengelola  ketidakpastian  dan perubahan-perubahan yang begitu cepat. 
Namun tentu saja untuk mencapai kondisi ini, seorang kepala sekolah tidak seyogyanya hanya mampu berperan selaku atasan yang keinginan dan kemauannya harus diikuti orang lain. Tentunya seorang kepala sekolah yang diberi kepercayaan untuk menjadi seorang pemimpin formal dalam kelembagaan pendidikan, haruslah selalu  berusaha  agar  kepemimpinannya  disertai  akseptabilitas  di  lingkungan bawahan, sehingga dapat dirasakan dorongan jiwa dan semangat kerjasama dalam iklim yang demokratis dan kondusif. 
Hal tersebut jika diibaratkan sangat gampang-gampang susah karena kepala sekolah yang menilai dengan pola subjektif maka akan membuat situasi di sekolah kurang kondusif.
Marjohan (2007:34) mengungkapkan bahwa dalam  interaksi  antara  kepala  dengan  guru-guru  sebagai  bawahan lebih  terlihat  sikap  subjektif.  Guru  yang  sering  menemui  kepala,  walau sembrono  dalam  mengajar,  maka  itulah  yang  dianggap  baik  dan  loyal sehingga bisa tinggi dalam penilaian DP. 3-nya. Sedangkan guru yang biasa-biasa  saja,  pada  hal  sangat  bertanggung  jawab  dalam  pelaksanaan  KBM, karena  kurang  ngomong  maka  dinilai  biasa-biasa  saja.  Jadi  inilah  akibat Kepala  Sekolah  yang  malas  mengadakan  turba  (turun  ke  bawah)  untuk meninjau  guru-guru  dan  sekaligus  menjalin  hubungan  sosial  dan  emosional. Seperti yang kita kenal tentang tipe guru secara umum yaitu guru yang suka menolak gagasan kepala, yang karena dianggap kurang tepat, dan guru yang suka ‘nrimo’ atau guru yang berwatak yes-man. Guru  yang pertama selalu menghadapi  kesukaran  karena  adanya  benturan-benturan  pendapat  dengan sang kepala. Dan sebetulnya tentang pendekatan ada mereka yang melakukan tapi caranya kerap kurang mengena. Seorang guru wanita mengatakan bahwa ada  kepala  yang  dekat  dengan  bawahan  tetapi  tetap  mempunyai  wibawa. Sebenarnya inilah kepala yang mempunyai tipe ‘leadership’ & ini adalah tipe kepala yang dapat dijadikan kepala unggulan. Dan ada pula kepala yang dekat dengan  bawahan  tetapi  dibawa  lalu  saja,  ini  terjadi  karena  ia  tidak  punya potensi  dan  bakat  dan  berhak  untuk  dimutasikan  sebagai  guru  biasa  saja.
            Lebih lanjut, kenyataan  di  lapangan  jika  dicermati  dengan  baik,  menunjukkan  bahwa  peran  penting  kepala  sekolah  nampaknya  belum  diimbangi  dengan  kemampuan professional yang memadai.  Dalam kondisi seperti ini, kepala sekolah lebih tampil sebagai  penata  laksana  sekolah  daripada  sebagai  pemimpin  yang  menakhodai, sekolah sebagai lembaga yang bermisi menjemput masa depan (Joni, 1998) dalam A. Muliati (2012:2).
Apa yang dipaparkan oleh Marjohan diatas memang benar adanya di lingkungan sekolah, hal ini lah membuat pemerintah membuat sebuah peraturan mengenai standar kepemimpinan kepala sekolah yaitu Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 13 tahun 2007 ada 5 (lima) kompetensi yang harus di penuhi oleh seorang kepala sekolah dalam memimpin satuan pendidikan yaitu dijelaskan secara singkat sebagai berikut :
1. Kompetensi Kepribadian mencakup :  Memiliki Akhlak Mulia, Integritas, keinginan yang kuat dalam pengembangan diri, Sikap terbuka, Pengendalian diri dan bakat serta minat jabatan.
2. Kompetensi Manajerial mancakup : Menyusun Perencanaan, mengembangkan organisasi, memimpin sekolah, mengelola perubahan, menciptakan budaya/iklim kondusif, mengelola guru dan staf, mengelola sarana, mengelola hubungan, mengelola peserta didik, mengelola kurikulum, mengelola keuangan, mengelola ketatausahaan, mengelola unit layanan khusus, mengelola system informasi, mamanfaatkan kemajuan teknologi dan memonitoring evaluasi dan pelaporan.
3. Kompetensi Kewirausahaan mencakup : Menciptakan Inovasi, Bekerja keras, memiliki motivasi, pantang menyerah, memiliki naluri wirausaha
4. Kompetensi Supervisi mencakup : Merencanakan program supervisi, melaksanakan supervisi dan menindaklanjuti hasil supervisi
5. Kompetensi Sosial mencakup : Bekerja sama dengan pihak lain, berpartisipasi dalam kegiatan sosial dan memiliki kepekaan sosial.
            Dari paparan diatas sudah jelas bahwa sebagai kepala sekolah harus mempunyai kelima kompetensi diatas.  Tentunya upaya pemrintah dengan membuat peraturan diatas dengan tujuan supaya kepemimpinan kepala sekolah menjadi lebih profesional.
Oleh karena itu, kepala sekolah merupakan salah satu komponen pendidikan yang paling berperan dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Keberhasilan seorang pemimpin akan terwujud apabila pemimpin tersebut memperlakukan orang lain atau bawahannya dengan baik, serta memberikan motivasi agar mereka menunjukan performance yang tinggi dalam melaksanakan tugas. Menurut Hadari Nawawi (1983:81) dalam Tina Rahmawati (2012:3) kepemimpinan adalah kemampuan menggerakan, memberikan motivasi dan mempengaruhi orang-orang agar bersedia melakukan tindakan-tindakan yang terarah pada pencapaian tujuan melalui keberanian mengambil keputusan tentang kegiatan yang harus dilakukan.
Kinerja guru akan berhasil jika kepala sekolah memperhatikan hasil yang
dicapai serta memperlakukan guru dengan baik, sehingga mereka mampu menunjukan performace yang lebih baik. Kinerja guru merupakan aktivitas yang dilakukan guru sesuai dengan profesi yang diembannya, untuk dapat melakukan tindakan yang sesuai dengan profesi yang diembannya sangat terkait dengan ada tidaknya kepuasan dalam bekerja. Kepala Sekolah mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam menentukan arah jalannya pocily yang ada di sekolah dalam rangka pencapaian mutu pendidikan yang maksimal. Sebagai seorang top manager (kepala sekolah) tidak seharunya mencari kesalahan atau kekurangan yang ada di sekolah dalam menjalankan fungsi pengawasan.
Kepala sekolah diharapkan mampu memberi pengaruh yang baik dalam menetapkan fungsi  planning, organizing, actuating maupun controlling demi pencapaian mutu pendidikan yang maksimal.  Pemimpin pada hakikatnya adalah seorang yang mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi perilaku orang lain di dalam kerjanya dengan menggunakan kekuasaan. Dalam kegiatannya bahwa pemimpin memiliki kekuasaan untuk mengerahkan dan mempengaruhi bawahannya sehubungan dengan tugas-tugas yang harus dilaksanakan.  Pemimpin yang professional adalah pemimpin yang memahami akan tugas dan kewajibannya, serta dapat menjalin hubungan kerjasama yang baik dengan bawahan, sehingga terciptanya suasana kerja yang membuat bawahan merasa aman, tentram, dan memiliki suatu kebebsan dalam mengembangkan gagasannya dalam rangka tercapai tujuan bersama yang telah ditetapkan. Berdasarkan latar belakang tersebut dan kajian empiris, kepemimpinan kepala sekolah yang profesional sangat penting karena berkaitan dengan peningkatan kualitas pendidikan.

B. Tujuan Penulisan Makalah
Tujuan penulisan makalah ini antara lain:
1.        Untuk mengetahui pengertian profesionalisme kepemimpinan kepala sekolah
2.        Untuk mengetahui karakteristik profesionalisme kepemimpinan kepala sekolah
3.        Untuk mengetahui masalah dan bagaimana cara meningkatkan profesionalisme kepala sekolah

C. Pembatasan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah diatas, ternyata profesionalisme kepemimpinan kepala sekolah sangat berdampak dalam berbagai hal. Mengingat keterbatasan dalam waktu, dana, tenaga maka makalah ini dibatasi hanya pada permasalahan profesionalisme kepemimpinan kepala sekolah.
BAB II
KAJIAN TEORI

A. Pengertian Profesionalisme Kepemimpinan Kepala Sekolah
Secara estimologi, istilah profesi berasal dari bahasa Inggris yaitu profession atau bahasa latin, profecus, yang artinya mengakui, adanya pengakuan, menyatakan mampu, atau ahli dalam melakukan suatu pekerjaan. Sedangkan secara terminologi, profesi berarti suatu pekerjaan yang mempersyaratkan pendidikan tinggi bagi pelakunya yang ditekankan pada pekerjaan mental; yaitu adanya persyaratan pengetahuan teoritis sebagai instrumen untuk melakukan perbuatan praktis, bukan pekerjaan manual (Danin, 2002) dalam Rusman (2011:16). Jadi suatu profesi harus memiliki tiga pilar pokok, yaitu pengetahuan, keahlian, dan persiapan akademik.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi ketiga, istilah profesi, profesional, profesionalisme dan profesionalitas dapat dibedakan menjadi sebagai berikut:
1.         Profesi ialah bidang pekerjaan yang dilandasi pendidikan keahlian (keterampilan, kejuruan, dsb) tertentu.
2.         Profesional ialah: a) bersangkutan dengan profesi, b) memerlukan kepandaian khusus untuk menjalankannya, c) mengharuskan adanya pembayaran untuk melakukannnya.
3.         Profesionalisme ialah mutu, kualitas, dan tindak tanduk yang merupakan ciri suatu profesi atau orang yang profesional.
4.         Profesionalitas ialah a) perihal profesi, b) keprofesian, c)kemampuan untuk bertindak secara profesional.  (Barnawi dan Arifin, 2012:110)
Menurut Frank H. Blackington dalam Rusman (2011:16), bahwa profesi adalah:
A profession must satisfy an indispensable social need and be based upon well established and socially acceptable scientific principles (sebuah profesi harus memenuhi kebutuhan masyarakat yang sangat diperlukan dan didasarkan pada prinsip-prinsip ilmiah yang diterima oleh masyarakat). Kata Blackington, makna profesi adalah memahami kewajibannya terhadap masyarakat dan mendorong anggotanya untuk melaksanakan ketentuan-ketentuan etika yang sudah diterima dan sudah mapan.
Lebih lanjut, Oteng Sutisna (1983:357) definisi lain, dari profesi yang bersumber pada sosiologi, memiliki konotasi simbolik berisi nilai. Profesi ialah istilah yang merupakan suatu model bagi konsepsi pekerjaan yang diinginkan, dicita-citakan.
Bahkan menurut Muhadjir Efendy, (2011) dalam Barnawi dan Arifin (2012:109-110) profesi berakar dari tradisi gereja. Berasal dari kata professio yang artinya semacam ikrar yang dilakukan oleh biarawan dan biarawati sebelum melaksanakan pekerjaan pelayanan kepada umat. Intinya mereka berikrar akan menyerahkan seluruh hidupnya untuk mencintai pekerjaannya itu da mengabdikan manfaat pekerjaan itu untuk kepentingan kemanusiaan.
Sementara itu, Profesional adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian atau kecakapan yang memenuhi mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi (Rusman,2011:18).
Menurut Dja’man Satori dalam Rusman (2011:18) “profesional menunjuk pada dua hal. Pertama, orang yang meyandang suatu profesi, misalnya “ dia seorang propfesional”. Kedua, penampilan seseorang dalam melakukan pekerjaan sesuai dengan profesinya.” Jadi seorang yang profesional tidak boleh bekerja asal-asalan atau amatiran.
Profesionalisme berasal dari profession yang berarti pekerjaan. Menurut Arifin (1995) dalam Rusman (2011:18) profesion mengandung arti yang sama dngan occupation atau pekerjaan yang memerlukan keahlian yang diperoleh melalui pendidikan atau latihan khusus. Sedangkan, Kunandar (2007:45) dalam Rusman (2011:18) mengatakan profesionalisme berasal dari kata profesi yang artinya suatu bidang atau pekerjaan yang ingin atau akan ditekuni seseorang.
Profesionalisme mengarah pada komitmen para anggota suatu profesi  Untuk meningkatkan kemampuan profesionalnya dan terus menerus mengembangkan srategi-strategi yang digunakannya dalam melakukan pekerjaan yang sesuai dengan profesi yang dibutuhkan (Rusman, 2011:18). Lebih lanjut dia mengatakan profesionalisme merupakan kondisi, arah, nilai, tujuan, dan kualitas suatu keahlian dan kwenangan dalam bidang pendidikan dan pembelajaran yang berkaitan dengan pekerjaan seseorang yang menjadi mata pencaharian.
Sedangkan, pengertian kepemimpinan sebagai istilah umum dapat dirumuskan sebagai proses dengan sengaja mempengaruhi orang lain dalam merealisasikan tujuan. Nawawi melihat kepemimpinan sebagai proses mengarahkan, membimbing,  mempengaruhi  atau  mengawasi  pikiran,  perasaan  atau  tindakan (Rusman, 2011:33). 
Lebih lanjut, kepemimpinan dalam kontek sekolah lebih menekankan pada terjadinya hubungan antara personil sekolah serta menciptakan iklim kebersamaan dan saling memiliki yang ditandai dengan rasa kebersamaan dalam bekerja. Dalam kondisi seperti itu akan tercipta hubungan yang harmonis diantara seluruh  personil  sekolah  (Kepala  Sekolah,  Guru,  Staf Tata  Usaha,  Siswa,  masyarakat,  dll).  Sebagai pemimpin formal, kepala sekolah bertanggung jawab atas tercapainya tujuan pendidikan melalui upaya menggerakkan bawahan ke arah pencapaian tujuan pendidikan yang telah ditetapkan.  Dalam hal ini kepala  sekolah  bertugas  melaksanakan  fungsi-fungsi  kepemimpinan,  baik  fungsi  yang  berhubungan dengan pencapaian tujuan pendidikan maupun penciptaan iklim sekolah yang kondusif bagi terlaksananya proses belajar mengajar secara efektif dan efisien.
Kepemimpinan  seperti  yang  dikemukakan  oleh  James  M.  Black  dalam  Samsudin  (2006:287)  dalam Rusman (2011:37) kepemimpinan  adalah  kemampuan  meyakinkan  dan  menggerakkan  orang  lain agar  mau  bekerja  sama  di  bawah  kepemimpinannya  sebagai  suatu  tim  untuk mencapai  suatu  tujuan  tertentu.  Sementara  Kunandar  (2007:8)  mengartikan kepemimpinan  adalah  suatu  kegiatan  dalam  membimbing  suatu  kelompok sedemikian rupa sehingga tercapailah tujuan itu. Lebih lanjut, Kunandar mengungkapkan bahwa  kepala sekolah adalah seorang guru (jabatan fungsional) yang  diangkat  untuk  menduduki  jabatan  struktural  (kepala  sekolah)  di  sekolah.
Sementara itu, Karina Purwanti, Murniati A.R. & Yusrizal. (2014:392) kepemimpinan  dipahami  dalam  dua  pengertian  yaitu  sebagai  kekuatan untuk menggerakkan dan mempengaruhi orang. Kepemimpinan hanyalah sebuah alat,  sarana  atau  proses  untuk  membujuk  orang  lain  agar  bersedia  melakukan sesuatu  secara  sukarela/sukacita. Ada  beberapa  faktor  yang  dapat  menggerakkan orang  karena  ancaman,  penghargaan,  otoritas  dan  bujukan.
Dengan kata lain bahwa kualitas kepemimpinan  baru  dapat  dicapai  apabila  dalam  diri  setiap  pemimpin  tumbuh kesadaran  dan  pemahaman  yang  mendalam  terhadap  makna  kepemimpinan dengan  segala  aspeknya  seperti  prinsip-prinsip,  berbagai  persyaratan  dan  fungsi-fungsi  kepemimpinan,  sehingga  pemimpin  mampu  mengembangkan keterampilan serta mewujudkan berbagai fungsi kepemimpinan yang diperlukan.
Oleh  karena  itu,  perlu  tersedia  suatu  sumber  yang  dapat  dimanfaatkan  untuk merangsang  kesadaran,  bahwa  kepemimpinan  di  sini berperan  dalam kehidupan berorganisasi. Dengan adanya kesadaran tersebut, akan menjadi pendorong untuk  lebih  memantapkan  penguasaan  tentang  prinsip-prinsip  kepemimpinan  serta peningkatan  berbagai  keterampilan  untuk  mewujudkan  fungsi-fungsi kepemimpinan yang diperlukan.
Kualitas  kepemimpinan  baru  dapat  dicapai  apabila  dalam  diri  setiap
pemimpin  tumbuh  kesadaran  dan  pemahaman  yang  mendalam  terhadap  makna kepemimpinan  dengan  segala  aspeknya  seperti  prinsip-prinsip,  berbagai persyaratan  dan  fungsi-fungsi  kepemimpinan,  sehingga  pemimpin  mampu mengembangkan keterampilan serta mewujudkan berbagai fungsi kepemimpinan yang diperlukan.
Peranan  kepemimpinan  kepala  sekolah  dalam  menggerakkan  organisasi sekolah  sangat  menentukan  keberhasilan  pencapaian  tujuan  organisasi  yang dipimpinnya.  Karwati  dan  Priansa  (2013:56) menyatakan  bahwa  kepala  sekolah  adalah seorang  guru  (jabatan  fungsional)  yang  diangkat  untuk  menduduki  jabatan struktural  (kepala  sekolah)  di  sekolah.  Kepala  sekolah  yang  banyak  membawa perubahan  kepada  sekolah  termasuk  juga  kepala  sekolah  yang  efektif.
Menurut Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No 28 Tahun 2010 tentang penugasan guru sebagai kepala sekolah pada bab I pasal 1 menyatakan bahwa kepala  sekolah/madrasah  adalah  guru  yang  diberi  tugas  tambahan  untuk memimpin taman kanak-kanak/raudhotul athfal (TK/RA), taman kanak-kanak luar biasa  (TKLB),  sekolah  dasar/madrasah  ibtidaiyah  (SD/MI),  sekolah  dasar  luar biasa  (SDLB),  sekolah  menengah  pertama/madrasah  tsanawiyah  (SMP/MTs), sekolah  menengah  pertama  luar  biasa  (SMPLB),  sekolah  menengah atas/madrasah aliyah  (SMA/MA),  sekolah menengah kejuruan/madrasah aliyah kejuruan  (SMK/MAK),  atau  sekolah  menengah  atas  luar  biasa  (SMALB)  yang bukan  sekolah  bertaraf  internasional  (SBI)  atau  yang  tidak  dikembangkan menjadi sekolah bertaraf internasional (SBI).
Berdasarkan  uraian  di  atas dapat  disimpulkan  bahwa  kepala  sekolah  merupakan seorang  guru  yang  diberikan  kepercayaan  untuk  memimpin  sekolah  dengan memberdayakan  seluruh  komponen  sekolah  agar  tujuan  pendidikan  dapat dilaksanakan dan dicapai sesuai dengan tujuan yang diharapkan.  Jika dikaitkan bahwa kepemimpinan kepala sekolah adalah proses  penerimaan,  penilaian,  pengorganisasian  dan  penginterpretasian  seorang guru  terhadap  kepala  sekolah  dalam  mempengaruhi  dan  mengarahkan  dirinya untuk  mencapai  tujuan  sekolah,  melalui  proses  kognisi  dan  afeksi  untuk menyimpulkan,  menafsirkan  pesan  dan    membentuk  konsep. Sementara itu, profesionalisme kepemimpinan kepala sekolah dapat diartikan mutu, kualitas, dan tindak tanduk yang merupakan ciri suatu profesi yang dapat mempengaruhi, mengarahkan, memberdayakan dan mengembangkan seluruh personil sekolah sehingga tujuan sekolah dapat tercapai yang dilakukan secara profesional.

B. Standar Kompetensi Kepala Sekolah
Menurut  Undang-undang  Guru  dan  Dosen  Nomor  14  Tahun  2005 disebutkan bahwa kompetensi adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh guru, dan dosen dalam melaksanakan tugas keprofesionalannya.
Istilah  kompetensi  menurut  Charles  adalah  “competency  as  rational performance  which  satisfactorily  meets  the  objective  for  a  desired  condition”. Kompetensi  merupakan  perilaku  yang  rasional  untuk  mencapai  tujuan  yang dipersyaratkan sesuai dengan kondisi yang diharapkan. Sedangkan Louise Moqvist berpendapat bahwa “Competency has been defined in the light  of  actual  circumsastances  relating  the  indivudual  and  work”.  Kompetensi menurut training agency sebagaimana disebutkan oleh Len Holmes menyebutkan bahwa, ”A competence is a description of something wich a person mhi works in a given  occupational  area  should  be  able  to  do.  It  is  description  of  an  action, behavior or outcome which a person should be able to demonstrate (E. Mulyasa, 2007b: 25)
Dari  beberapa  pendapat  diatas,  dapat  ditarik  kesimpulan  bahwa kompetensi pada hakikatnya merupakan gambaran tentang apa yang seyogyanya dapat dilakukan seseorang dalam suatu pekerjaan, berupa kegiatan, perilaku dan hasil  yang  dapat  ditampilkan  atau  ditunjukkan.  Agar  dapat  melakukan  sesuatu dalam  pekerjaannya,  orang  harus  mempunyai  kemampuan  dalam  bentuk pengetahuan,  sikap,  dan  keterampilan  (skill)  yang  sesuai  dengan  bidang pekerjaannya.  Spencer  and  Spencer (1993: 9) menambahkan  bahwa,  “a  competency  is  an underlying  characteristic  of  individual  that  is  causally  related  to  criterion-referenced effective and/or  superior performance in a job or situation. Artinya bahwa kompetensi seseorang menjadi ciri dasar individu dikaitkan dengan  standar  kriteria  kinerja  yang  efektif  dan  atau  superior.  Dari  penjelasan diatas  spencer  berpendapat  bahwa  kompetensi  disamping  menentukan  perilaku dan  kinerja  seseorang  juga  menentukan  apakah  seseorang  melakukan pekerjaannya dengan baik berdasarkan standar kriteria yang telah ditentukan.
Adapun standar kompetensi kepala sekolah telah diaturdalam Peraturan Menteri  Pendidikan Nasional Nomor 13 Tahun 2007. Kepala sekolah minimal harus memiliki lima kompetensi yaitu :
1.    Kompetensi Kepribadian 
a.    Berakhlak mulia, mengembangkan budaya dan tradisi akhlakmulia, dan  menjadi teladan akhlak mulia bagi komunitas di sekolah/madrasah.
b.    Memiliki integritas kepribadian sebagai pemimpin.
c.    Memilikikeinginan yang kuat dalam pengembangan diri sebagai kepala sekolah/madrasah.
d.   Bersikap terbuka dalam  melaksanakan tugas pokok dan fungsi.
e.    Mengendalikan diri dalam menghadapi masalah dalam pekerjaan sebagai kepala sekolah/ madrasah.
f.     Memiliki bakat dan minat jabatan sebagai pemimpin pendidikan.


2.    Kompetensi Manajer
a.    Menyusun perencanaan sekolah/madrasah untuk berbagai tingkatanperencanaan.
b.    Mengembangkan organisasi sekolah/madrasah sesuai dengan kebutuhan
c.    Memimpin sekolah/madrasah dalam rangka pendayagunaansumber daya sekolah/ madrasah secara optimal.
d.   Mengelola perubahan dan pengembangan sekolah/madrasahmenuju organisasi pembelajar yang efektif.
e.    Menciptakan budaya dan iklim sekolah/ madrasah yang kondusif dan inovatif bagi pembelajaran peserta didik.
f.     Mengelola guru dan staf dalam rangka pendayagunaan sumber daya manusia secara optimal.
g.    Mengelola sarana dan prasarana sekolah/madrasah dalam rangka pendayagunaan secara optimal.
h.    Mengelola hubungan sekolah/madrasah danmasyarakat dalam rangka  pencarian dukungan ide, sumber belajar, danpembiayaan sekolah/ madrasah.
i.      Mengelola peserta didik dalam rangka penerimaan peserta didik baru,  dan  penempatan  dan  pengembangan  kapasitas  peserta didik.
j.      Mengelola pengembangan kurikulum dan kegiatan pembelajaran sesuai dengan arah dan tujuan pendidikan nasional.
k.    Mengelola keuangan sekolah/madrasah sesuai dengan prinsip pengelolaan yang akuntabel, transparan, dan efisien.
l.      Mengelola ketatausahaan sekolah/madrasah dalam mendukung pencapaian tujuan sekolah/ madrasah
m.  Mengelola unit layanan khusus sekolah/madrasah dalam mendukung kegiatan pembelajaran dan kegiatan peserta didik di sekolah/madrasah.
n.    Mengelola sistem informasi sekolah/madrasah dalammendukung penyusunan program dan pengambilan keputusan.
o.    Memanfaatkan kemajuan teknologi informasi bagi peningkatan pembelajaran dan manajemen sekolah/madrasah.
p.    Melakukan monitoring, evaluasi, dan pelaporan pelaksanaan program  kegiatan sekolah/madrasah dengan prosedur yang tepat, serta merencanakan tindak lanjutnya
3.    Kompetensi Kewirausahaan
a.    Menciptakan inovasi yang berguna bagi pengembangan sekolah/madrasah.
b.    Bekerja keras untuk mencapai keberhasilan sekolah/madrasahsebagai organisasi pembelajar yang efektif.
c.    Memiliki motivasi yang kuat untuk sukses dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya sebagai pemimpin sekolah/madrasah.
d.   Pantang menyerah dan selalu mencari solusi terbaik dalam menghadapi kendala yang dihadapi sekolah/madrasah.
e.    Memiliki naluri kewirausahaan dalam mengelola kegiatan produksi/jasa  sekolah/madrasah sebagai  sumber  belajar  peserta didik.
4.    Kompetensi Supervisi
a.    Merencanakan program supervisi akademik dalam rangka peningkatan profesionalisme guru.
b.    Melaksanakan supervisi akademik terhadap guru dengan menggunakan pendekatan dan teknik supervisi yang tepat.
c.    Menindaklanjuti hasil supervisi akademik terhadap guru dalam rangka peningkatan profesionalisme guru.
5.    Kompetensi Sosial
a.    Bekerja  sama  dengan  pihak  lain  untuk  kepentingan sekolah/madrasah.
b.    Berpartisipasi dalam kegiatan sosial kemasyarakatan.
c.    Memiliki kepekaan sosial terhadap orang atau kelompok lain

C. Peran Dan Fungsi Kepala Sekolah
Kata  “peran”  atau  “role”  dalam  kamus  oxford  dictionary  (1982: 1466) diartikan  : Actor’s  part;  one’s  task  or  function.  Yang  berarti  aktor;  tugas  seseorang  atau fungsi.  Istilah peran dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2005: 854) mempunyai arti pemain  sandiwara  (film),  tukang  lawak  pada  permainan  makyong, perangkat tingkah yang diharapkan dimiliki oleh orang yang berkedudukan di masyarakat.
Istilah "peran" kerap diucapkan banyak orang.Sering kata peran dikaitkan dengan posisi atau kedudukan seseorang.Atau peran dikaitkan dengan "apa yang dimainkan" oleh seorang aktor dalam suatu drama. Mungkin tidak banyak orang tahu, bahwa kata peran, atau  role  dalam bahasa Inggrisnya, memang diambil dari dramaturgy  atau  seni  teater.  Dalam  seni  teater  seorang  aktor  diberi  peran  yang harus  dimainkan  sesuai  dengan  plot-nya,  dengan  alur  ceritanya,  dengan lakonnya. (http://digilib.sunan-ampel.ac.id).
Bila dikaitkan dengan kepala sekolah, maka secara sederhana  peran  kepala  sekolah dapat didefinisikan sebagai : “seorang tenaga fungsional guru  yang diberi tugas untuk memimpin suatu sekolah dimana diselenggarakan proses belajar mengajar, tempat dimana  terjadi  interaksi  antara  guru  yang  memberi  pelajaran  dan  murid  yang menerima pelajaran” (Wahjosumijo, 1999: 83).
Dalam  persepektif  kebijakan  pendidikan  nasional  (Depdiknas,  2006), terdapat tujuh peran kepala sekolah yaitu, sebagai : (1) edukator (pendidik); (2) manajer; (3) administrator; (4) supervisor; (5) leader (pemimpin); (6) pencipta iklim kerja; (7) wirausahawan. (http://www.depdiknas.go.id/ inlink)
Merujuk  kepada  tujuh  peran  kepala  sekolah  sebagaimana  disampaikan oleh Depdiknas di atas, dibawah  ini akan diuraikan peran kepala sekolah dalam suatu lembaga pendidikan :
1.    Kepala Sekolah Sebagai Edukator (Pendidik)
Berkaitan dengan peran kepala sekolah sebagai educator (pendidik), Sondang P. Siagian (1982: 22) mengemukakan bahwa :
Kepala  sekolah  sebagai  edukator  harus  memiliki  strategi  yang  tepat untuk  meningkatkan  profesionalisme  tenaga    pendidik  di  sekolahnya, menciptakan iklim sekolah yang kondusif, memberikan nasehat kepada warga sekolah, memberikan dorongan kepada seluruh tenaga pendidik serta melaksanakan model pembelajaran yang menarik.  Kepala sekolah harus berusaha menanamkan, memajukan dan meningkatkan sedikitnya 4 macam nilai, yaitu pembinaan mental, moral, fisik dan artistik.

Pembinaan mental adalah membina para tenaga pendidik tentang sikap batin dan watak. Pembinaan  moral adalah pembinaan tentang perbuatan  baik   dan  buruk,  sikap  dan  kewajiban  sesuai  dengan  tugas  masing-masing. Pembinaan  fisik  adalah  pembinaan  jasmani,  kesehatan  dan  penampilan, sedangkan  pembinaan  artistik  adalah  pembinaan  tentang  kepekaan  terhadap seni dan keindahan.
Dalam rangka  meningkatkan kinerja  sebagai edukator, kepala  sekolah harus  merencanakan dan  melaksanakan program  sekolah dengan  baik, antara lain :
a.    Mengikutkan tenaga pendidik dalam penataran guna menambah wawasan, juga  memberi  kesempatan  kepada  tenaga  pendidik  untuk  meningkatkan pengetahuan  dan  keterampilannya  dengan  belajar  ke  jenjang  yang  lebih tinggi. 
b.    Menggerakkan  tim  evaluasi  hasil  belajar  untuk  memotivasi  peserta  didik agar lebih giat belajar dan meningkatkan prestasinya. 
c.    Menggunakan waktu belajar secara efektif di sekolah dengan menekankan disiplin yang tinggi.
Karena mengajar adalah tugas yang  diwariskan oleh Nabi Muhammad Saw., sedangkan upahnya yang sejati adalah terletak pada peserta didik yang mengamalkan apa yang telah mereka ajarkan. Menurut M. Athiyah al-Abrasyi (1975: 10) dalam (Rusman, 2011:98), seorang  pendidik harus mempunyai sifat:
a.    Mempunyai  sifat  zuhud,  yaitu  tidak  mengutamakan  untuk mendapatkan  materi  dalam  tugasnya  melainkan  karena  ingin mengamalkan ilmu yang diperolehnya dari Allah dan mengharapkan keridloan Allah SWT., semata. 
b.    Mempunyai jiwa yang bersih dari sifat dan akhlak yang buruk. 
c.    Ikhlas dalam melaksanakan tugasnya 
d.   Pemaaf terhadap peserta didiknya 
e.    Harus menempatkan dirinya sebagai seorang bapak/ibu sebelum dia menjadi seorang guru. 
f.     Mengetahui bakat, tabiat dan watak peserta didik
g.    Menguasai bidang studi yang diajarkan

Kegiatan  belajar  mengajar  merupakan  inti  dari proses pendidikan dan guru  merupakan  pelaksana  dan  pengembang  utama  kurikulum  di  sekolah, kepala  sekolah  yang  menunjukkan  komitmen  tinggi  dan  fokus  terhadap pengembangan  kurikulum  dan  kegiatan  belajar  mengajar  di  sekolahnya  tentu akan  sangat  memperhatikan  tingkat  kompetensi  yang  dimiliki  gurunya, sekaligus  juga  akan  senantiasa  berusaha  memfalisitasi  dan  mendorong  agar para guru dapat secara terus menerus meningkatkan kompetensinya, sehingga kegiatan belajar mengajar dapat berjalan efektif dan efisien.

2.    Kepala Sekolah Sebagai Manajer  
Tugas  manajer  adalah  merencanakan,  mengorganisasikan,  mengatur, mengkoordinasikan  dan  mengendalikan  dalam  rangka  mencapai  tujuan  yang telah ditetapkan. Menurut Vincent Gaspersz (2003: 201) bahwa, “Manajer adalah orang yang melakukan sesuatu secara benar (people who do things right).Dengan  demikian,  kepala  sekolah  harus  mampu  merencanakan  dan mengatur serta mengendalikan semua program yang telah disepakati bersama. 
Dalam  mengelola  tenaga  pendidikan,  salah  satu  tugas  penting  yang harus  dilakukan  kepala  sekolah  adalah  melaksanakan  kegiatan  pemeliharaan dan  pengembangan  profesi  para  guru.  Dalam  hal  ini  kepala  sekolah seyogyanya dapat memfasilitasi dan memberikan kesempatan yang luas kepadaguru  untuk  melaksanakan  kegiatan  pengembangan  profesi  melalui  berbagai kegiatan  pendidikan  dan  pelatihan,  baik  yag    dilaksanakan  sekolah,  seperti  : MGMP/MGMPS  (tingkat  sekolah),    (work  shop)  in  house  training,    diskusi profesional  dan  sebagainya,  atau  melalui  kegiatan  pendidikan  dan  pelatihan diluar  sekolah,  seperti  :  kesempatan  melanjutkan  pendidikan  atau  mengikuti berbagai kegiatan pelatihan yang diselenggarakan pihak lain.

3.    Kepala Sekolah Sebagai Administrator
Kepala sekolah sebagai administrator sangat diperlukan karena kegiatan di sekolah tidak terlepas dari pengelolaan administrasi yang bersifat pencatatan dan  pendokumentasian  seluruh  program    sekolah.  Kepala  sekolah  dituntut memahami dan mengelola kurikulum, administrasi peserta didik, administrasi sarana  dan  prasarana,  dan  administrasi  kearsipan.  Kegiatan  tersebut  perlu dilakukan secara efektif agar administrasi sekolah dapat tertata dan terlaksana dengan baik.   
Kemampuan  kepala  sekolah  sebagai  administrator  harus  diwujudkan dalam  penyusunan  kelengkapan  data  administrasi  pembelajaran,  bimbingan dan konseling, kegiatan praktikum, kegiatan di perpustakaan, data administrasi peserta  didik,  guru,  pegawai  TU,  penjaga  sekolah,  teknisi  dan  pustakawan, kegiatan ekstrakurikuler, data administrasi hubungan sekolah dengan orang tua murid, data administrasi gedung dan ruang dan surat menyurat. 
Kepala  sekolah  sebagai  administrator  dalam  hal  ini  juga  berkenaan dengan keuangan, bahwa untuk tercapainya peningkatan kompetensi guru tidak lepas dari  faktor  biaya.  Seberapa  besar    sekolah  dapat  mengalokasikananggaran peningkatan kompetensi guru tentunya akan mempengaruhi terhadap tingkat kompetensi para gurunya.
Masalah  keuangan  adalah  masalah  yang  peka.  Oleh  karena  itu  dalam mengelola  bidang  ini  kepala  sekolah  harus  hati-hati,  jujur  dan  terbuka  agar tidak timbul kecurigaan baik dari staf maupun dari masyarakat atau orang tua murid.  
Banyak  keperluan  sekolah  yang  harus  dibiayai,  dan  semakin  banyak pula biaya yang diperlukan. Dalam hal ini kepala sekolah harus memiliki daya kreasi  yang  tinggi  untuk  mampu  menggali  dana  dari  berbagai  sumber, diantaranya  dapat  diperoleh  misalnya  dari  siswa  atau  orang  tua,  masyarakat, pemerintah,  yayasan,  para  dermawan  dan  sebagainya.  Disamping  itu  kepala sekolah juga harus mampu mengalokasikan dana atau anggaran yang memadai bagi upaya peningkatan sekolah/madrasah. (Soewaji Lazaruth, 1993: 26).

4.    Kepala Sekolah Sebagai Supervisor  
Sebagai  supervisor,  kepala  sekolah  berfungsi  untuk  membimbing, membantu  dan  mengarahkan  tenaga  pendidik  untuk  menghargai  dan melaksanakan  prosedur-prosedur    pendidikan  guna  menunjang  kemajuan pendidikan.  Kepala  sekolah  juga  harus  mampu  melakukan  berbagai pengawasan dan pengendalian untuk meningkatkan kinerja tenaga pendidik.
Hal ini dilakukan sebagai tindakan preventif untuk mencegah agar para tenaga  pendidik  tidak  melakukan  penyimpangan  dan  lebih  hati-hati  dalammelaksanakan  tugasnya.  Untuk  mengetahui  sejauh  mana  guru  mampu melaksanakan pembelajaran, secara berkala kepala sekolah perlu melaksanakan kegiatan  supervisi,  yang  dapat  dilakukan  meliputi  kegiatan    kunjungan  kelas untuk  mengamati  proses  pembelajaran  secara  langsung,  terutama  dalam pemilihan  dan  penggunaan  metode,  media  yang  digunakan  dan  keterlibatan siswa  dalam  proses  pembelajaran.  Dari  hasil  supervisi  ini,  dapat  diketahui kelemahan  sekaligus  keunggulan  guru  dalam  melaksanakan  pembelajaran, tingkat  penguasaan  kompetensi  guru  yang  bersangkutan,    selanjutnya diupayakan solusi, pembinaan dan tindak  lanjut tertentu sehingga guru  dapat memperbaiki kekurangan yang ada sekaligus mempertahankan keunggulannya dalam melaksanakan pembelajaran. 
Jones  dkk.  sebagaimana  disampaikan  oleh  Sudarwan  Danim (2002: 59) mengemukakan bahwa: “menghadapi kurikulum yang berisi perubahan-perubahan yang cukup besar  dalam  tujuan,  isi,  metode  dan  evaluasi  pengajarannya,  sudah sewajarnya  kalau  para  guru  mengharapkan  saran  dan  bimbingan  dari kepala sekolah mereka”. Dari ungkapan ini, mengandung makna bahwa kepala sekolah harus betul-betul menguasai tentang kurikulum sekolah. Mustahil  seorang  kepala  sekolah  dapat  memberikan  saran  dan  bimbingan  kepada  guru,  sementara  dia  sendiri  tidak  menguasainya dengan baik.

5.    Kepala sekolah sebagai leader (pemimpin)
Dalam teori kepemimpinan setidaknya dikenal dua gaya kepemimpinan yaitu  kepemimpinan  yang  berorientasi  pada  tugas  dan  kepemimpinan  yang berorientasi  pada  manusia.  Dalam  rangka  meningkatkan  kompetensi  guruseorang kepala sekolah dapat menerapkan kedua gaya kepemimpinan tersebut secara tepat dan fleksibel, disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan yang ada.  Menurut John Gage Allee (1969: 214) dalam Danim (2002:112) bahwa, “Leader is a guide; a conductor; a commander”. (Pemimpin itu adalah penunjuk pemandu, penuntun dan komandan).
Kepribadian  kepala  sekolah  sebagai    leader  menurut  Ordway  Tead (http://digilib.sunan-ampel.ac.id) harus menunjukkan sifat-sifat: 
·      Kesadaran akan tujuan dan arah 
·      Antusiasme 
·      Keramahan dan kecintaan 
·      Integritas (keutuhan, kejujuran dan ketulusan hati) 
·      Penguasaan teknis 
·      Ketegasan dalam mengambil keputusan 
·      Kecerdasan 
·      Keterampilan mengajar 
·      Kepercayaan
6.    Kepala sekolah sebagai pencipta iklim kerja
Budaya dan iklim kerja yang kondusif akan memungkinkan setiap guru lebih termotivasi untuk  menunjukkan kinerjanya  secara unggul,  yang disertai usaha  untuk  meningkatkan  kompetensinya. 
Oleh  karena  itu,  dalam  upaya menciptakan budaya dan iklim kerja yang kondusif, kepala sekolah hendaknya memperhatikan  prinsip-prinsip  sebagai  berikut  :  (1)  para  guru  akan  bekerja lebih giat apabila kegiatan yang dilakukannya menarik dan menyenangkan, (2) tujuan kegiatan perlu disusun dengan dengan jelas dan diinformasikan kepada para guru sehingga mereka mengetahui tujuan dia bekerja, para guru juga dapat dilibatkan  dalam  penyusunan  tujuan  tersebut,  (3)  para  guru  harus  selalu diberitahu  tentang  dari  setiap  pekerjaannya,  (4)  pemberian  hadiah  lebih  baikdari hukuman, namun sewaktu-waktu hukuman juga diperlukan, (5) usahakan untuk  memenuhi  kebutuhan  sosio-psiko-fisik  guru,  sehingga  memperoleh kepuasan.

7.    Kepala sekolah sebagai wirausahawan
Dalam  menerapkan  prinsip-prinsip  kewirausaan  dihubungkan  dengan peningkatan  kompetensi  guru,  maka  kepala  sekolah  seyogyanya  dapat menciptakan  pembaharuan,  keunggulan  komparatif,  serta  memanfaatkan berbagai peluang. Kepala sekolah dengan sikap kewirauhasaan yang kuat akan berani melakukan perubahan-perubahan yang inovatif di sekolahnya, termasuk perubahan dalam hal-hal yang berhubungan dengan proses pembelajaran siswa beserta kompetensi gurunya.   
Kepala  sekolah  sebagai  wirausahawan  harus  mampu  mencari, menemukan dan  melaksanakan  berbagai pembaharuan  yang  innovatif dengan menggunakan  strategi  yang  tepat,  sehingga  terjalin  hubungan  yang  harmonis antara kepala sekolah, staf, tenaga pendidik dan peserta didik, di samping itu juga agar pendidikan yang ada menjadi semakin baik. 
Sejauh  mana  kepala  sekolah  dapat  mewujudkan  peran-peran  di  atas, secara langsung maupun tidak langsung dapat memberikan kontribusi terhadap peningkatan kompetensi seluruh komponen pendidikan,  yang pada gilirannya dapat membawa efek terhadap peningkatan mutu pendidikan di sekolah.
Kepemimpinan  merupakan  salah  satu  faktor  yang  sangat  berperan dalam  organisasi,  baik  buruknya  organisasi  seringkali  sebagian  besar bergantung  pada  faktor  pemimpin.  Sedangkan  menurut  Mintzberg  dalamMuhaimin (2009: 29) bahwa,“Kepemimpinan adalah kemampuan untuk melangkah keluar dari  budaya  yang ada dan  memulai proses perubahan evolusioner  yang  lebih adaptif.” Atau  dengan  kata  lain  kepemimpinan  adalah  proses  memberi pengaruh  kepada  orang  lain,  sehingga  orang  tersebut  melakukan  sesuatu pekerjaan/proses  sebagaimana  yang  dikehendaki  dan  diinginkan  oleh  sang pemimpin.
Peran  kepala  sekolah    dalam  kepemimpinan  adalah  kepribadian  dan sikap  aktifnya  dalam  mencapai  tujuan.  Mereka  aktif  daripada  reaktif, membentuk  idea  daripada  menanggapi  untuk  mereka.  Kepemimpinan  kepala sekolah  cenderung  mempengaruhi  perubahan  suasana  hati,  membuka  image dan  harapan,  dan  tepat  pada  tujuan  serta  keinginan  khusus  yang  ditetapkan untuk urusan yang terarah. Hasil kepemimpinan ini  mempengaruhi perubahan cara  orang  berfikir  tentang  apa  yang  apat  diinginkan,  dimungkinkan,  dan diperlukan.
Peran  administrasi  dan  kepemimpinan  kepala  sekolah  ini  sulit dipisahkan,  keduanya merupakan komplemen yang paling menyeimbangkan.  Keberhasilan  kepala sekolah dalam kepemimpinan dan administrasi memiliki satu arah dan tujuan “the improvement of teaching and learning for students”.

D. Wewenang dan Tanggung jawab Kepala Sekolah
Wewenang  adalah  hak untuk  melakukan  sesuatu  atau  memerintah  orang lain untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu agar mencapai tujuan tertentu. Ada 2 pandangan mengenai sumber wewenang (http://satriagosatria.blogspot. com)yaitu :
a.    Formal,  bahwa  wewenang  di  anugerahkan  karena  seseorang  diberi  atau dilimpahkan/diwarisi hal tersebut.
b.    Penerimaan,  bahwa  wewenang  seseorang  muncul  hanya  bila  hal  itu  diterima oleh kelompok/individu kepada siapa wewenang tersebut dijalankan.

Dalam satuan pendidikan, kepala sekolah menduduki dua jabatan penting untuk  bisa  menjamin  kelangsungan  proses  pendidikan  sebagaimana  yang  telah digariskan oleh perundang-undangan. Pertama, kepala  sekolah adalah pengelola pendidikan  di  sekolah  secara  keseluruhan.    Kedua,  kepala  sekolah  adalah pemimpin formal pendidikan di sekolahnya. (http://digilib.sunan-ampel.ac.id ).
Sebagai  pengelola pendidikan,  berarti kepala  sekolah  bertanggung  jawab terhadap  keberhasilan  penyelenggaraan  kegiatan  pendidikan  dengan  cara  melaksanakan  administrasi  sekolah  dengan  seluruh  substansinya.  Disamping  itu kepala  sekolah  bertanggungjawab  terhadap  kualitas  sumber  daya  manusia  yang ada  agar  mereka  mampu  menjalankan  tugas-tugas  pendidikan.  Oleh  karena  itu sebagai pengelola, kepala sekolah memiliki tugas untuk mengembangkan kinerja para personal (terutama para guru) ke arah profesionalisme yang diharapkan. 
Dalam kaitan ini Moch. Idhochi Anwar (2003: 75) menjelaskan bahwa :
Sebagai  pemimpin  formal,  kepala  sekolah  bertanggungjawab  atas tercapainya tujuan pendidikan melalui upaya menggerakkan para bawahan ke arah pencapaian tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Dalam hal ini kepala sekolah bertugas melaksanakan fungsi-fungsi kepemimpinan, baik fungsi yang  berhubungan  dengan  pencapaian  tujuan  pendidikan  maupun penciptaan iklim sekolah yang kondusif bagi terlaksananya proses belajar mengajar secara efektif dan efisien.

Tanggung jawab/amanah  merupakan  beban    yang  harus  dipikul  dan melekat pada seorang kepala sekolah  yang  harus dipertanggungjawabkan dalam organisasi  dan  dihadapan  yang  Maha  Kuasa  kelak,  sekaligus  sebagai  peluang untuk beribadah kepada Allah serta memberikan manfaat bagi orang lain. Hal ini tergambar dalam hadits yang artinya : ”Jika  telah  keluar  tiga  orang  melakukan  safar  (perjalanan),  hendaklah  salah seorang di antara  mereka  menjadi amir (pemimpin)” (HR. Abu Daud).
Tanggung jawab juga berkaitan dengan resiko yang dihadapi oleh seorang pemimpin,  baik  berupa  sanksi  dari  atasan  atau  pihak  lain  yang  berhubungan dengan perbuatan  yang dilakukan,  maupun  yang dilakukan oleh  bawahan, guru, karyawan dan tenaga kependidikan. 
Tanggung jawab seorang pemimpin harus  dibuktikan bahwa kapan saja dia harus siap untuk melaksanakan tugas. Dia harus tetap siaga bila ada perintah dari  lebih atas. Untuk itu, dia  harus seorang pekerja keras (hard worker), berdedikasi (dedicated employer), dan seorang saudagar (memiliki seribu akal) (E. Mulyasa, 2005a: 54-55).
Menurut  Kyte (1972: 111),  sebagai  kepala  sekolah  memiliki empat  fungsi  utama sebagai berikut :
Pertama,  bertanggung  jawab  atas  keselamatan,  kesejahteraan,  dan perkembangn  murid-murid  yang  ada  di  lingkungan  sekolah.  Kedua, bertanggung  jawab  atas  kesejahteraan  dan  keberhasilan  professional guru.  Ketiga,  berkewajiban  memberikan  layanan  sepenuhnya  yang berharga  bagi  murid-murid  dan  guru-guru  yang  memungkinkan dilakukan melalui pengawasan resmi, bertanggung jawab mendapatkan bantuan  maksimal  dari  semua  institusi  pembantu.  Keempat,bertanggung  jawab  untuk  mempromosikan    murid-murid  terbaiknya melalui berbagai cara.

Kepemimpinan  kepala  sekolah  adalah  cara  atau  usaha  kepala  sekolah dalam  mempengaruhi,  mendorong,  membimbing,  mengarahkan  dan menggerakan guru, staf, siswa, orang tua siswa dan pihak terkait untuk bekerja atau  berperan  guna  mencapai  tujuan  yang  ditetapkan.  Cara  kepala  sekolah untuk membuat orang lain bekerja untuk mencapai tujuan sekolah meruapkan inti kepemimpinan kepala sekolah. (Syafaruddin, 2005b: 164)
Sebagai  pemimpin  pendidikan  di  sekolahnya,  seorang  kepala  sekolah mengorganisasikan  sekolah  dan  personil  yang  bekerja  didalamnya  ke dalam  dsituasi  yang  efisien,  demokratis,  dan  kerjasama  institusional yang  tergantungpada  keahlian  para  guru  dan  karyawannya.  Dibawah kepemimpinannya,  program  pendidikan  untuk  para  siswa  harus direncanakan, diorganisasikan dan ditata. Dalam melaksanakan program, kepala  sekolah  yang  baik  harus  dapat  memimpin  secara  professional para  staf  pengajar,  bekerja  secara  ilmiah,  penuh  perhatian  dan demokratis,  dengan  menekankan  pada  perbaikan  proses  belajar mengajar.  Dimana  sebagian  besar  kreatifitas  akan  dicurahkan    untuk perbaikan  pendidikan.  Dapat  disimpulkan,  kepala  sekolah  secara teoritik  bertanggung  jawab  bagi  terlaksananya  seluruh  program pendidikan disekolah.


BAB III
TEMUAN EMPIRIK DAN PEMBAHASAN


A.     Profesionalisme Kepemimpinan Kepala Sekolah
          Paradigma baru manajemen pendidikan dalam rangka meningkatkan kualitas secara efektif dan efisien, perlu didukung oleh sumber daya manusia yang berkualitas. Dalam hal ini, pengembangan SDM merupakan proses peningkatan kemampuan manusia agar mampu melakukan pilihan-pilihan. Pengertian ini memusatkan perhatian pada pemerataan dalam peningkatan kemampuan manusia dan pemanfaatan kemampuan itu. Rumusan tersebut menunjukkan bahwa pengembangan SDM tidak hanya sekedar meningkatkan kemampuan, tetapi juga menyangkut pemanfaatan kemampuan tersebut. Menurut Sadili (2006:323) dalam  pengembangan sumber daya manusia termasuk di dalamnya adalah peningkatan partisipasi manusia melalui perluasan kesempatan untuk mendapatkan penghasilan, peluang kerja, dan berusaha.
          Dalam konteks ekonomi daerah dan desentralisasi pendidikan, mengkaji masalah SDM merupakan topic yang menarik dan akan senantiasa aktual karena sifatnya yang dinamis. Hal ini, bukan saja karena pengembangannya merupakan proses yang tidak pernah berakhir dan melibatkan semua unsure bangsa; tetapi lebih dari itu, karena disadari bahwa pengembangan SDM merupakan bagian integral dari pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan merupakan titik sentral pembangunan nasional. Proses pengembangan SDM tersebut harus menyentuh berbagai bidang kehidupan yang harus tercermin dalam pribadi para pemimpin, termasuk para pemimpin pendidikan di sekolah merupakan suatu tuntutan untuk meningkatkan kualitas pendidikan dalam konteks otonomi dareah dan desentralisasi pendidikan.
          Paradigma pendidikan yang memberikan kewenangan luas kepala sekolah dalam mengembangkan berbagai potensinya memerlukan peningkatan kemampuan kepala sekolah dalam berbagai aspek manajerialnya, agar dapat mencapai tujuan sesuai dengan visi dan misi yang diemban sekolahnya. Sebagai ilustri dapat dikemukakan misalnya, kepala sekolah dituntut untuk memiliki kemampuan melakukan pengelolaan keuangan dengan sebaik-baiknya di sekolah. Kemampuan ini diperlukan, karena kalau dulu kepala sekolah diberi bantuan oleh pemerintah dalam bentuk sarana dan prasarana pendidikan yang sering kurang bermanfaat bagi sekolah, maka dalam konteks otonomi daerah dan desentralisasi pendidikan, bantuan langsung diberikan dalam bentuk uang, mau diapakan uang tersebut bergantung sepenuhnya kepada kepala sekolah, yang penting dia dapat mempertanggungjawabkannya secara professional.
          Kepala sekolah merupakan salah satu komponen pendidikan yang paling berperan dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Seperti diungkapkan Sadili (2006:346) bahwa “Erat hubungannya antara mutu kepala sekolah dengan berbagai aspek kehidupan sekolah seperti disiplin sekolahan, iklim budaya sekolah, dan menurunnya perilaku nakal peserta didik”. Dalam pada itu, kepala sekolah bertanggunngjawab atas manajemen pendidikan secara mikro, yang secara langsung berkaitan dengan proses pembelajaran di sekolah. Sebagaimana dikemukakan dalam pasal 12 ayat 1 PP 28 tahun 1990 bahwa kepala sekolah bertanggung jawab atas penyelenggaraan kegiatan pendidikan, administrasi sekolah, pembinaan tenaga kependidikan lainnya, dan pendayaagunaan serta pemeliharaan sarana dan prasarana.
          Apa yang diungkapkan di atas menjadi lebih penting sejalan dengan semakin kompleksnya tuntutan tugas kepala sekolah, yang menghendaki dukungan kinerja yang semakin efektif dan efisien. Di samping itu, perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan budaya yang diterapkan dalam pendidikan di sekolah juga cenderung bergerak maju semakin pesat, sehingga menuntut penguasaan secara terarah, berncana, dan berkesinambungan untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Dalam kerangka inilah dirasakan perlunya peningkatan manajemen kepala sekolah secara professional untuk mensukseskan program-program pemerintah yang sedang digulirkan, yakni otonomi daerah, desentralisasi pendidikan, manajemen berbasis sekolah, kurikulum berbasis kompetensi, benchmarking, broad basic education, life skill, kontekstual learning, dan Undang-Undang Sisidiknas; yang kesemuanya itu menuntut peran aktif dan kinerja professional kepala sekolah.
          Kepala sekolah harus memiliki visi dan misi, serta strategi mnajemen pendidikan secara utuh dari berorientasi kepada mutu. Strategi ini dikenal dengan Manajemen Mutu Terpadu (MMT), yang telah lebih popular dalam dunia bisnis dan industri dengan istilah Total Quality Management (TQM). Strategi ini merupakan usaha sistematis dan terkoordinasi untuk secara terus-menerus memperbaiki kualitas layanan, sehingga fokusnya diarahkan ke pelanggan dalam hal ini peserta didik, orang tua peserta didik, pemakai lulusan, guru, karyawan, pemerintah dan masyarakat. Sedikitnya terdapat lima sifat layanan yang harus diwujudkan oleh kepala sekolah agar pelanggan puas; yakni layanan sesuai dengan yang dijanjikan (reliability), mampu menjamin kualitas pembelajaran (assurance), iklim sekolah yang kondusif (tangible), memberikan perhatian penuh kepada peserta didik (emphaty), cepat tanggap terhadap kebutuhan peserta didik (responsiveness).
Berdasarkan hasil studi yang telah dilakukannya, Southern Regional Education Board (SREB) dalam Wahyu Mirza (2014:8) telah mengidentifikasi 13 faktor kritis terkait dengan keberhasilan kepala sekolah dalam mengembangkan keprofesionalannya. Ketigabelas faktor tersebut adalah:
1. Menciptakan misi yang terfokus pada upaya peningkatan prestasi belajar siswa, melalui praktik kurikulum dan pembelajaran yang memungkinkan terciptanya peningkatan prestasi belajar siswa.
2. Ekspektasi yang tinggi bagi semua siswa dalam mempelajari bahan pelajaran pada level yang lebih tinggi.
3. Menghargai dan mendorong implementasi praktik pembelajaran yang baik, sehingga dapat memotivasi dan meningkatkan prestasi belajar siswa.
4. Memahami bagaimana memimpin organisasi sekolah, dimana seluruh guru dan staf dapat memahami dan peduli terhadap siswanya.
5. Memanfaatkan data untuk memprakarsai upaya peningkatan prestasi belajar siswa dan praktik pendidikan di sekolah maupun di kelas secara terus menerus.
6. Menjaga agar setiap orang dapat memfokuskan pada prestasi belajar siswa.
7. Menjadikan para orang tua sebagai mitra dan membangun kolaborasi untuk kepentingan pendidikan siswa.
8. Memahami proses perubahan dan memiliki kepemimpinan untuk dapat mengelola dan memfasilitasi perubahan tersebut secara efektif.
9. Memahami bagaimana orang dewasa belajar (baca: guru dan staf) serta mengetahui bagaimana upaya meningkatkan perubahan yang bermakna sehingga terbentuk kualitas pengembangan profesi secara berkelanjutan untuk kepentingan siswa.
10. Memanfaatkan dan mengelola waktu untuk mencapai tujuan dan sasaran peningkatan sekolah melalui cara-cara yang inovatif.
11. Memperoleh dan memanfaatkan berbagai sumber daya secara bijak.
12. Mencari dan memperoleh dukungan dari pemerintah, tokoh masyarakat dan orang tua untuk berbagai agenda peningkatan sekolah.
13. Belajar secara terus menerus dan bekerja sama dengan rekan sejawat untuk mengembangkan riset baru dan berbagai praktik pendidikan yang telah terbukti.(www.sreb.org)
Untuk menghadapi tantangan dan permasalahan pendidikan nasional yang amat berat saat ini, mau tidak mau pendidikan harus dipegang oleh para manajer dan pemimpin yang sanggup menghadapi berbagai tantangan dan permasalahan yang ada, baik pada level makro maupun mikro di sekolah. Merujuk pada permasalahan yang ada berikut ini diuraikan secara singkat tentang 20 profil profesionalitas kepala sekolah yang dibutuhkan saat ini sebagai berikut:
1.      Mampu menginspirasi melalui antusiasme yang menular.
Pendidikan harus dikelola secara sungguh-sungguh, oleh karena itu para manajer (pemimpin) pendidikan harus dapat menunjukkan semangat dan kesungguhan di dalam melaksanakan segenap tugas dan pekerjaanya. Semangat dan kesungguhan dalam bekerja ini kemudian ditularkan kepada semua orang dalam organisasi, sehingga mereka pun dapat bekerja dengan penuh semangat dan besungguh-sungguh.
2.      Memiliki standar etika dan integritas yang tinggi.
Penguasaan standar etika dan integritas yang tinggi oleh para manajer atau pemimpin pendidikan tidak hanya terkait dengan kepentingan kepemimpinan dalam organisasi, namun juga tidak lepas dari hakikat pendidikan itu sendiri. Pendidikan adalah usaha untuk menciptakan manusia-manusia yang memiliki standar etika dan kejujuran yang tinggi. Oleh karena itu, pendidikan sudah seharusnya dipegang oleh para manajer (pemimpin) yang memiliki standar etika dan kejujuran yang tinggi, sehingga pada gilirannya semua orang dalam organisasi dapat memiliki standar etika dan kejujuran yang tinggi.
3.      Memiliki tingkat energi yang tinggi.
Mengurusi pendidikan sebenarnya bukanlah mengurusi hal-hal yang sifatnya sederhana, karena didalamnya terkandung usaha untuk mempersiapkan suatu generasi yang akan mengambil tongkat estafet kelangsungan suatu bangsa.di masa yang akan datang. Kegagalan pendidikan adalah kegagalan kelanjutan suatu generasi. Untuk mengurusi pendidikan dibutuhkan energi dan motivasi yang tinggi dari para manajer dan pemimpin pendidikan. Pendidikan membutuhkan manajer (pemimpin) yang memiliki ketabahan, daya tahan (endurance) dan pengorbanan yang tinggi dalam mengelola pendidikan.
4.      Memiliki keberanian dan komitmen.
Saat ini pendidikan dihadapkan pada lingkungan yang selalu berubah-ubah, yang menuntut keberanian dari para manajer (pemimpin) pendidikan untuk melakukan perubahan-perubahan agar bisa beradaptasi dengan tuntutan perubahan yang ada. Selain itu, pendidikan membutuhkan manajer (pemimpin) yang memiliki komitmen tinggi terhadap pekerjaannya. Kehadirannya sebagai manajer (pemimpin) benar-benar dapat memberikan kontribusi yang signifikan bagi kemajuan organisasi, yang didasari rasa kecintaannya terhadap pendidikan.
5.      Memiliki tingkat kreativitas yang tinggi dan bersikap nonkonvensional.
Saat ini permasalahan dan tantangan yang dihadapi pendidikan sangat kompleks, sehingga menuntut cara-cara penyelesaian yang tidak mungkin hanya dilakukan melalui cara-cara konvensional. Manajer (pemimpin) pendidikan yang memiliki kreativitas tinggi akan mendorong terjadinya berbagai inovasi dalam praktik-praktik pendidikan, baik pada tataran manjerialnya itu sendiri maupun inovasi dalam praktik pembelajaran siswa.
6.      Berorientasi pada tujuan, namun realistis.
Tujuan pendidikan berbeda dengan tujuan-tujuan dalam bidang-bidang lainnya. Oleh karena itu, seorang manajer (pemimpin) pendidikan harus memahami tujuan-tujuan pendidikan. Di bawah kepemimpinnanya, segenap usaha organisasi harus diarahkan pada pencapaian tujuan pendidikan dengan menjalankan fungsi-fungsi manajemen beserta seluruh substansinya. Pencapaian tujuan pendidikan disusun secara realistis, dengan ekspektasi yang terjangkau oleh organisasi, tidak terlalu rendah dan juga tidak terlalu tinggi.
7.      Memiliki kemampuan organisasi yang tinggi.
Kegiatan pendidikan adalah kegiatan yang melibatkan banyak komponen, yang di dalamnya membutuhkan upaya pengorganisasian secara tepat dan memadai. Bagaimana mengoptimalkan sumber daya manusia yang ada, bagaimana mengoptimalkan kurikulum dan pembelajaran, bagaimana mengoptimalkan sumber dana, dan bagaimana mengoptimalkan lingkungan merupakan hal-hal penting dalam pendidikan yang harus diorganisasikan sedemikian rupa, sehingga menuntut kemampuan khusus dari para manajer (pemimpin) pendidikan dalam mengorganisasikannya.
8.      Mampu menyusun prioritas.
Begitu banyaknya kegiatan yang harus dilakukan dalam pendidikan sehingga menuntut para manajer (pemimpin) pendidikan untuk dapat memilah dan memilih mana yang penting dan harus segera dilaksanakan dan mana yang bisa ditunda atau mungkin diabaikan. Kemampuan manajer (pemimpin) pendidikan dalam menyusun prioritas akan terkait dengan efektivitas dan efisiensi pendidikan.
9. Mendorong kerja sama tim dan tidak mementingkan diri sendiri, upaya yang terorganisasi.
Kegiatan dan masalah pendidikan yang sangat kompleks tidak mungkin diselesaikan secara soliter dan parsial. Manajer (pemimpin) pendidikan harus dapat bekerjasama dengan berbagai pihak, baik yang berada dalam lingkungan internal maupun eksternal. Demikian pula, manajer (pemimpin) pendidikan harus dapat mendorong para bawahannya agar dapat bekerjasama dengan membentuk team work yang kompak dan cerdas, sekaligus dapat meletakkan kepentingan organisasi di atas kepentingan pribadi.
10. Memiliki kepercayaan diri dan memiliki minat tinggi akan pengetahuan.
Masalah dan tantangan pendidikan yang tidak sederhana, menuntut para manajer (pemimpin) pendidikan dapat memiliki keyakinan diri yang kuat. Dalam arti, dia meyakini bahwa dirinya memiliki kemampuan dan kesanggupan untuk menyelesaikan permasalahan yang ada. Dia juga memiliki keyakinan bahwa apa yang dilakukannya dapat dipertanggungjawabkan secara hukum, sosial, moral maupun intelektual. Keyakinan diri yang kuat bukan berarti dia lantas menjadi seorang yang “over confidence”, mengarah pada sikap arogan dan menganggap sepele orang lain. Di samping itu, sudah sejak lama pendidikan dipandang sebagai kegiatan intelektual. Oleh karena itu, seorang manajer (pemimpin) pendidikan harus dapat menunjukkan intelektualitas yang tinggi, dengan memiliki minat yang tinggi akan pengetahuan, baik pengetahuan tentang manajerial, pengetahuan tentang perkembangan pendidikan bahkan pengetahuan umum lainnya.
11.    Sesuai dan waspada secara mental maupun fisik.
Tugas dan pekerjaan manajerial pendidikan yang kompleks membutuhkan kesiapan dan ketangguhan secara mental maupun fisik dari para manajer pendidikan. Beban pekerjaan yang demikian berat dan diluar kapasitas yang dimilikinya dapat mengganggu kesehatan mental dan fisik. Agar dapat menjalankan roda organisasi dengan baik, seseorang manajer (pemimpin) pendidikan harus dapat menjaga dan memelihara kesehatan fisik dan mentalnya secara prima. Selain itu, manajer (pemimpin) pendidikan harus dapat memperhatikan kesehatan mental dan fisik dari seluruh anggota dalam organisasinya.
12.    Bersikap adil dan menghargai orang lain.
Dalam organisasi pendidikan melibatkan banyak orang yang beragam karakteristiknya, dalam kepribadian, keyakinan, cara pandang, pengetahuan, keterampilan, pengalaman dan sebagainya. Kesemuanya itu harus dapat diperlakukan dan ditempatkan secara proporsional oleh manajer (pemimpin). Manajer (pemimpin) pendidikan harus memandang dan menjadikan keragaman karakteristik ini sebagai sebuah kekuatan dalam organisasi, bukan sebaliknya.
13.    Menghargai kreativitas.
Untuk meningkatkan mutu pendidikan dibutuhkan sentuhan kreativitas dari semua orang yang terlibat di dalamnya. Tidak hanya menajer (pemimpin) yang dituntut untuk berfikir kreatif, tetapi semua orang dalam organisasi harus ditumbuhkan kreativitasnya. Pemikiran kreatif biasanya berbeda dengan cara-cara berfikir pada umumnya. Dalam hal ini, manajer (pemimpin) pendidikan harus dapat mengakomodasi pemikiran-pemikiran kreatif dari setiap orang dalam organisasi, yang mungkin saja pemikiran-pemikiran itu berbeda dengan sudut pandang yang dimilikinya.
14.    Menikmati pengambilan resiko.
Tatkala keputusan untuk berubah dan berinovasi telah diambil dan segala resiko telah diperhitungkan secara cermat. Namun dalam implementasinya, tidak mustahil muncul hal-hal yang berasa di luar dugaan sebelumnya, maka dalam hal ini, manajer (pemimpin) pendidikan harus tetap menunjukkan ketenangan, keyakinan dan berusaha mengendalikan resiko-resiko yang muncul. Jika memang harus berhadapan dengan sebuah kegagalan, manajer (pemimpin) pendidikan harus tetap dapat menunjukkan tanggung jawabnya, tanpa harus mencari kambing hitam dari kegagalan tersebut. Selanjutnya, belajarlah dari pengalaman kegagalan tersebut untuk perbaikan pada masa-masa yang akan datang.
15.    Menyusun pertumbuhan jangka panjang.
Kegiatan pendidikan bukanlah kegiatan sesaat, tetapi memiliki dimensi waktu yang jauh ke depan. Seorang manajer (pemimpin) pendidikan memang dituntut untuk membuktikan hasil-hasil kerja yang telah dicapai pada masa kepemimpinannya, tetapi juga harus dapat memberikan landasan yang kokoh bagi perkembangan organisasi, jauh ke depan setelah dia menyelesaikan masa jabatannya. Kecenderungan untuk melakukan praktik “politik bumi hangus” harus dihindari. Yang dimaksud dengan “politik bumi hangus” disini adalah praktik kotor yang dilakukan manajer (pemimpin) pendidikan pada saat menjelang akhir jabatannya, misalnya dengan cara menghabiskan anggaran di tengah jalan, atau merubah struktur organisasi yang sengaja dapat menimbulkan chaos dalam organisasi, sehingga mewariskan masalah-masalah baru bagi manajer (pemimpin) yang menggantikannya.
16.    Terbuka terhadap tantangan dan pertanyaan..
Menjadi manajer (pemimpin) pendidikan berarti dia akan dihadapkan pada sejumlah tantangan dan permasalahan yang harus dihadapi, merentang dari yang sifatnya ringan hingga sangat berat sekali. Semua itu bukan untuk dihindari atau ditunda-tunda tetapi untuk diselesaikan secara tuntas.

17.     Tidak takut untuk menantang dan mempertanyakan.
Selain harus mampu menyelesaikan masalah-masalah yang sudah ada (current problems) secara tuntas, seorang manajer (pemimpin) pendidikan harus memiliki keberanian untuk memunculkan tantangan dan permasalahan baru, yang mencerminkan inovasi dalam organisasi. Dengan demikian, menjadi manajer (pemimpin) pendidikan tidak hanya sekedar melaksanakan rutinitas dan standar pekerjaan baku, tetapi memunculkan pula sesuatu yang inovatif untuk kemajuan organisasi.
18.    Mendorong pemahaman yang mendalam untuk banyak orang.
Kegiatan pendidikan menuntut setiap orang dalam organisasi dapat memahami tujuan, isi dan strategi yang hendak dikembangkan dalam organisasi. Manajer (pemimpin) pendidikan berkewajiban memastikan bahwa setiap orang dalam organisasi dapat memahaminya secara jelas, sehingga setiap orang dapat memamahi peran, tanggung jawab dan kontribusinya masing-masing dalam organisasi. Selain itu, manajer (pemimpin) pendidikan harus dapat mengembangkan setiap orang dalam organisasi untuk melakukan perbuatan belajar sehingga organisasi pendidikan benar-benar menjadi sebuah learning organization.
19.     Terbuka terhadap ide-ide dan pandangan baru.
Pandangan yang keliru jika pendidikan dipandang sebagai sebuah kegiatan monoton dan rutinitas belaka. Pendidikan harus banyak melahirkan berbagai inovasi yang tidak hanya dibutuhkan untuk kepentingan pendidikan itu sendiri tetapi juga kepentingan di luar pendidikan. Untuk dapat melahirkan inovasi, manajer (pemimpin) pendidikan harus terbuka dengan ide-ide dan pandangan baru, baik yang datang dari internal maupun eksternal, terutama ide dan pandangan yang bersumber dari para pengguna jasa (customer) pendidikan.
20.     Mengakui kesalahan dan beradaptasi untuk berubah.
Asumsi yang mendasarinya adalah manajer (pemimpin) pendidikan adalah manusia, yang tidak luput dari kesalahan. Jika melakukan suatu kesalahan, seorang manajer (pemimpin) pendidikan harus memiliki keberanian untuk mengakui kesalahannya tanpa harus mengorbankan pihak lain atau mencari kambing hitam. Lakukan evaluasi dan perbaikilah kesalahan pada masa-masa yang akan datang. Jika memang kesalahan yang dilakukannya sangat fatal, baik secara moral, sosial, maupun yuridis atau justru dia terlalu sering melakukan kesalahan mungkin yang terbaik adalah adanya kesadaran diri bahwa sesungguhnya dia tidak cocok dengan tugas dan pekerjaan yang diembannnya, dan itulah pilihan yang terbaik bagi dirinya dan organisasi (Wahyu Mirza,2014:9).
          Tidak hanya itu, tugas kepala sekolah sekarang dalam mengatur jalannya sekolah yang dapat bekerja sama dan berhubungan erat dengan masyarakat. Kepala sekolah wajib membangkitkan semangat staf, guru, guru  dan  pegawai  untuk  sekolah  untuk  bekerja  sama  dengan  baik,  membangun  visi  dan  misi, kesejahtraan,  hubungan  dengan  pegawai  sekolah,  dan  murid,  mengembangkan  kurikulum. Salah satu tugas kepala sekolah adalah sebagai Pembina dan pembimbing guru agar bekerja dengan betul dalam proses pembelajaran siswanya. Kepala sekolah juga harus mempunyai beberapa prinsip yang menurut Sahertian (2000: 20) dalam  Juwairiyah (2010:4) adalah :
1.   Prinsip  Ilmiah  (Scientific)  artinya  kegiatan  supervisi  dilaksanakan  berdasarkan  data  objektif  yang diperoleh dalam kenyataan pelaksanaan proses belajar mengajar. 
2.   Prinsip  demokratis  artinya  didasarkan  pada  hubungan  kemanusiaan  yang  akrab dan hangat sehingga guru-guru merasa tentram menjalankan tugasnya. 
3.   Prinsip kerja sama artinya bisa memberi support mendorong, menstimulasi, sehingga mereka merasa tumbuh bersama. 
4.   Prinsip konstruktif dan kreatif artinya setiap guru termotivasi dalam mengembangkan potensi dan  kreatifitasnya  jika  supervisi  mampu  menciptakan  suasana  kerja  yang  menyenangkan, bukan melalui cara cara menakutkan.

          Maksud dari beberapa prinsip diatas bahwa dengan melaksanakan prinsip tersebut diatas maka dalam melaksanakan pembinaan dan bimbingan terhadap guru dan stafnya maka profesionalisme kepemimpinan kepala sekolah akan nampak dan juga pada tujuan dari seluruh kegiatan di sekolah akan tercapai yaitu dalam hal proses pembelajaran.
          Lebih lanju, kepala sekolah harus melaksanakan supervisi karena dengan melaksanakan supervisi setiap proses kegiatan yang ada di lingkungan sekolah akan terpantau dan juga akan menjadi sebuah evaluasi.
         
          Menurut Juwairiyah (2010:4) supervisi  terbagi  tiga: 

1.   Supervisi  akademik  yaitu  supervisi  yang  dilakukan  kepala  sekolah  untuk membantu  guru  dalam  proses  pembelajaran  mulai  dari  pembuatan  RPP  sampai  dengan  proses pelaksanaan  pembelajaran.
2.   Supervisi  manajerial  yaitu  supervise  yang  dilakukan  kepala  sekolah terhadap  para  administrator  untuk  memperbaiki  manajemen  sekolah.
3.   Supervisi  Klinis  yaitu supervisi yang dilakukan kepala sekolah untuk memperbaiki kinerja guru baik dalam pembuatan RPP maupun cara- cara mengajar sehingga dengan perbaikan–perbaikan ini diharapkan proses belajar mengajar lebih berhasil. 

          Sementara itu, model supervisi yang dilakukan kepala sekolah:
1. Model konvensioanal (tradisional),
2. Model ilmiah,
3.  Model klinis  
4. Model artistik 
          Lebih lanjut, pendekatan yang dilakukan kepala sekolah ada beberapa macam diantaranya:
1.   Pendekatan langsung (direktif) adalah cara kepala sekolah dengan memberikan arahan langsung kepada guru
2.   Pendekatan  tidak  langsung  (  non  direktif)  adalah  pendekatan  yang  dilakukan  kepala sekolah dengan cara tidak langsung menunjukkan permasalahan  artinya kepala sekolah mendengarkan secara aktif apa yang dikemukakan oleh guru, dan ia memberikan waktu kepada guru untuk mengemukakan permasalahan yang mereka alami. Perilaku supervisor dengan:  mendengarkan,  memberi  penguatan,  menjelaskan,  menyajikan,  memecahkan masalah. 
3.   Pendekatan  Kolaboratif  adalah  cara  pendekatan  yang  memadukan  pendekatan  direktif dan  non  direktif.  Ketiga  pendekatan  diatas  dilalui  dengan:  Percakapan  awal  (pre-confrence), Observasi, Analisis/ interpretasi, Percakapan akhir ( past conference),Analisis akhir, Diskusi. 

          Dengan melaksanakan supervisi dan dengan berbagai pendekatan yang dilakukan diatas kepemimpinan kepala sekolah yang diaharapkan akan terjaga baik mutu dan kualitasnya sehingga para guru dan staf akan segan dan terlihat berwibawa.


B.     Meningkatkan Profesionalisme Kepemimpinan Kepala Sekolah
          Meningkatkan profesionalisme kepemimpinan kepala sekolah sebetulnya pemerintah sudah membuat peraturan yaitu dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 28 tahun 2010 Bab VI Pasal 11 yaitu upaya untuk meningkatkan profesionalisme kepala sekolah yaitu dengan PKB (Peningkatan Keprofesion Berkelanjutan) yang berbunyi sebagai berikut:
(1)  Pengembangan  keprofesian  berkelanjutan  meliputi  pengembangan  pengetahuan,  keterampilan,  dan  sikap  pada  dimensi-dimensi  kompetensi  kepribadian, manajerial, kewirausahaan, supervisi, dan sosial.
(2) Pengembangan keprofesian berkelanjutan dilaksanakan melalui pengembangan diri, publikasi ilmiah, dan/atau karya inovatif.
(3)  Pengembangan  keprofesian  berkelanjutan  dilaksanakan  sesuai  dengan ketentuan yang ditetapkan Direktur Jenderal.

Selanjutnya, pada Bab VII Pasal 12 bahwa dalam meningkatkan kualitas dilakukan pula PKKS (Penilaian Kinerja Kepala Sekolah) yang pasalnya berbunyi:

1.      Penilaian  kinerja  kepala  sekolah/madrasah  dilakukan  secara  berkala  setiap tahun dan secara kumulatif setiap 4 (empat) tahun.
2.      Penilaian kinerja tahunan dilaksanakan oleh pengawas sekolah/madrasah.
3.      Penilaian kinerja 4 (empat) tahunan dilaksanakan oleh atasan langsung dengan mempertimbangkan penilaian kinerja oleh tim penilai yang terdiri dari pengawas sekolah/madrasah, pendidik, tenaga kependidikan, dan komite sekolah dimana yang bersangkutan bertugas.
4.      Penilaian kinerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:
a.       Usaha pengembangan sekolah/madrasah yang dilakukan selama menjabat kepala sekolah/madrasah;
b.      Peningkatan  kualitas  sekolah/madrasah  berdasarkan  8  (delapan)  standar nasional  pendidikan  selama  dibawah  kepemimpinan  yang  bersangkutan; dan 
c.       Usaha pengembangan profesionalisme sebagai kepala sekolah/madrasah; 
5.      Hasil  penilaian  kinerja  dikategorikan  dalam  tingkatan  amat  baik,  baik,  cukup, sedang atau kurang.
6.      Penilaian  kinerja  kepala  sekolah/madrasah  dilaksanakan  sesuai  pedoman penilaian  kinerja  kepala  sekolah/madrasah  yang  ditetapkan  oleh  Direktur Jenderal.

          Untuk itu, pengembangan profesionalisme kepala sekolah merupakan tugas dan wewenang para pengawas yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Dinas Pendidikan Nasional. Menurut Keputusan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 118 Tahun 1996, tanggung jawab Pengawas Sekolah adalah :

1.      Melaksanakan pengawasan penyelenggaraan pendidikan di sekolah sesuai dengan penugasannya pada Taman Kanak-kanak/Raudhatul Athfal/Bustanul Athfal, Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah/Madrasah Diniyah/Sekolah Dasar Luar Biasa, Sekolah Tingkat Pertama/Madrasah Tsanawiyah atau Sekolah Tingkat Atas/Madrasah Aliyah/Sekolah Luar Biasa.
2.       Meningkatkan kualitas pembelajaran dn hasil belajar, serta bimbingan peserta   didik dalam rangka mencapai tujuan pendidikan.

          Sedangkan wewenang Pengawas Sekolah adalah
1.   Memilih dan menentukan metode kerja untuk mencapai hasil yang optimal dalam melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya sesuai dengan kode etik profesi menetapkan tingkat kinerja guru dan tenaga lain yang diawasi serta faktor-faktor yang mempengaruhi.
2.   Menentukan dan atau mengusulkan program pembinaan serta melakukan pembinaan.

Dari uraian pasal diatas jelaslah bahwa pemerintah juga sangat memperhatikan mengenai pengembangan peningkatan mutu dan juga kualitas kepemimpinan kepala sekolah yaitu dengan adanya peraturan diatas.
Tentunya, upaya peningkatan profesionalisme kepala sekolah merupakan proses keseluruhan dan organisasi sekolah serta harus dilakukan secara berkesinambungan karena peubahan yang terjadi selalu dinamis serta tidak bisa diprediksi sehingga kepala sekolah maupun tenaga kependidikan harus selalu siap dihadapkan pada kondisi perubahan. Ada istilah seorang tenaga pendidik yang tadinya professional belum tentu akan terus professional bergitupun sebaliknya, tenaga kependidikan yang tadinya tidak professional belum tentu akan selamanya tidak professional.
Dari pernyataan itu jelas kalau perubahan akan selalu terjadi dan menuntut adanya penyasuaian sehingga kita dapat mengatasi perubahan tersebut dengan penuh persiapan. Dalam upaya peningkatan mutu sekolah dan profesionalisme kepala sekolah harus ada pihak yang berperan dalam peningkatan mutu tersebut. Dan yang berperan dalam peningkatan profesionalisme kepala sekolah adalah pengawas sekolah yang juga merupakan pemimpin pendidikan yang bersama-sama kepala sekolah memiliki tanggung jawab terhadap perkembangan sekolah.
Upaya peningkatan keprofesionalan kepala sekolah tidak akan terwujud begitu tanpa adanya motivasi dan adanya kesadaran dalam diri kepala sekolah tersebut serta semangat mengabdi yang akan melahirkan visi kelembagaan maupun kemampuan konsepsional yang jelas. Dan ini merupakan faktor yang paling penting sebab tanapa adanya kesadaran dan motivasi semangat mengabdi inilah semua usaha yang dilakukan untuk meningkatkan keprofesionalannya hasilnya tidak akan maksimal dan perealisasiannya pun tidak akan optimal.
BAB I V
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

A. Kesimpulan
Profesionalisme Kepala sekolah sangat diperlukan disekolah untuk keberhasilan dan  peningkatan mutu pendidikan. Kepala sekolah yang professional harus memiliki kualifikasi dan kompetensi. Kompetensi kepala sekolah yang harus dimiliki adalah : kepribadian, manajerial, kewirausahaan, supervisi, sosial.   
Dengan kualifikasi dan kompetensi yang sudah dimiliki kepala sekolah ini, maka kepala sekolah yang benar-benar bekerja dengan baik tidak akan meninggalkan pekerjaannya begitu saja, salah satu pekerjaannya adalah melakukan supervisi. Supervisi yang dilakukan ada tiga yaitu supervisi akademik, supervisi manajerial, dan supervisi klinis. Ketiga supervisi ini sangat berhubungan erat oleh karena itu kepala sekolah yang melaksanakan ketiga supervisi ini sangat berarti bagi sekolah yang ia kelola, dan dengan supervisi ini, sekolah menjadi maju dan menjadi sekolah percontohan bagi sekolah laiinnya.  Dengan kualifikasi dan kompetensi yang sudah dimiliki oleh kepala sekolah  dan benar -benar dilaksanakan  pekerjaannya  maka kepala sekolah yang demikian  dapat dikatakan kepala sekolah yang memiliki wawasan yang luas dan  professional.  
Kepala sekolah merupakan pemimipin formal yang tidak bisa diisi oleh orang-orang tanpa didasarkan atas pertimbangan tertentu. Untuk itu kepala sekolah bertangggung jawab melaksanakan fungsi-fungsi kepemimpinan baik yang berhubungan dengan pencapaian tujuan pendidikan maupun dalam mencipatakan iklim sekolah yang kondusif yang menumbuhnkan semangat tenaga pendidik maupun peserta didik. Dengan kepemimpinan kepala sekolah inilah, kepala sekolah diharapakan dapat memberikan dorongan serta memberikan kemudahan untuk kemajuan serta dapat memberikan inspirasi dalam proses pencapaian tujuan.
Kepala sekolah diangkat melalui prosedur serta persyaratan tertentu yang bertanggung jawab atas tercapainya tujuan pendidikan melalui upaya peningkatan profesionalisme tenaga kependidikan yang mengimplikasikan meningkatkanya prestasi belajar peserta didik. Kepala sekolah yang professional akan berfikir untuk membuat perubahan tidak lagi berfikir bagaimana suatu perubahan sebagaimana adanya sehingga tidak terlindas oleh perubahan tersebut. Untuk mewujudkan kepala sekolah yang professional tidak semudah membalikkan telapak tangan, semua itu butuh proses yang panjang.

B. Rekomendasi
Dari uraian kesimpulan mengenai peningkatan profesionalisme kepemimpinan kepala sekolah diatas penulis memberikan saran sebagai berikut:
1.        Setiap kepala sekolah harus melaksanakan pekerjaannya sesuai dengan tugas pokok fungsi jabatan yang diembannya yaitu sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 13 tahun 2007 tentang standar kepala sekolah dan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 28 tahun 2008 tentang penugasan guru sebagai kepala sekolah, sehingga profesionalisme kepemimpinan kepala sekolah akan terjaga.
2.        Kepada pemerintah dalam melaksanakan PKB mengenai kepemimpinan kepala sekolah harus dilaksanakan dengan penuh perhatian dan dengan pengawasan yang maksimal.
3.        Pengawas sebagai kepanjangan tangan dari pemerintah tugas pengawasannya terhadap kepala sekolah dilaksanakan secara objektif dan maksimal, sehingga kualitas kedua belah pihak akan tetap terjaga yang dilaksanakan dengan memperhatikan humanitas diantara sesama pimpinan supaya terjaga sinergitasnya.  


DAFTAR PUSTAKA

Buku
Anwar, Moch. Idhochi.(2003),Administrasi Pendidikan dan Manajemen Biaya Pendidikan, Bandung : CV. Alfabeta.

Barnawi, dan Arifin, Mohammad. (2012). Etika dan Profesi Kependidikan. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media

Danim, Sudarwan. (2002) ,Inovasi Pendidikan : Dalam Upaya Meningkatkan Profesionalisme Tenaga Kependidikan, Bandung : Pustaka Setia.

Mulyasa, E.,(2005).a.Manajemen & Kepemimpinan Kepala Sekolah, Jakarta: Bumi Aksara.

Mulyasa, E. (2007).b. Menjadi Kepala Sekolah Profesional. Bandung. Remaja Rosdakarya.

Gaspersz, Vincent. (2003),Total Quality Management, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Karwati, Euis dan Priansa, Donni Juni. (2013). Kinerja dan Profesionalisme Kepala Sekolah Membangun Sekolah yang Bermutu. Bandung: Alfabeta.

Kusnandar.(2007). Guru Profesional. Jakarta. Raja Grafindo

Kyte, G.C. (1972),The Principal at Work,Boston : Ginn and Company,  Revised Edition.

Lazaruth, Soewaji. (1993),Kepala Sekolah Dan Tanggung Jawabnya, Yogyakarta:Penerbit Kanisius

Muhaimin, dkk.,(2009), Manajemen Pendidikan -Aplikasi dalam Penyusunan Rencana Pengembangan Sekolah/Madrasah, Jakarta : Kencana PrenadaMedia Group.

Oxford Press. (1982). The New Oxford Illustrated Dictionary. Oxford University Press.

Rusman. (2011). Model-model Pembelajaran Mengembangkan Profesionalisme Guru. Jakarta. Rajawali Press

Sadili. Samsudin. (2006). Manajemen Sumber Daya Manusia. Bandung. Pustaka Setia

Siagian, Sondang P. (1982), Organisasi, Kepemimpinan dan Perilaku  Administrasi, Jakarta: Gunung Agung.

Sutisna, Oteng. (1983). Administrasi Pendidikan Dasar Teoritis untuk Praktek Profesional. Bandung: Angkasa

Spencer, M,. Lyle, Jr and Signe M. Spencer, (1993), Competency at work Models for Superior Performance, New York : John Wiley & Sons Inc.

Syafaruddin.  (2002).a.  Manajemen  Mutu  Terpadu  dalam  Pendidikan.  Jakarta. Grasindo Gramedia, Widia Sarana Indonesia.

Syafaruddin, (2005).bManajemen Lembaga Pendidikan Islam, Jakarta : Ciputat Press.


Jurnal dan Makalah
A, Muliati. (2012). Kepemimpinan pembelajaran yang efektif bagi Kepala Sekolah. Makalah.

Karina Purwanti, Murniati A.R. & Yusrizal. (2014). Kepemimpinan Kepala Sekolah Dalam Meningkatkan Kompetensi Guru Pada SMP Negeri 2 Simeulue Timur, Jurnal Ilmiah DIDAKTIKA. vol 14 (2), 390-400.

Rahmawati, Tina. (2012). Tantangan Kepala Sekolah Dalam Menghadapi Perubahan. Makalah

Internet
Marjohan. (2007).  Artikel  Tanggung  Jawab  Kepala  Sekolah  atas  Mutu Pendidikan. Online: www.edu_articles.com diakses tanggal 23 Maret 2015 pukul 19.36

Juwairiyah. (2010). Membangun Profesionalisme Kepala Sekolah. Online http://sumut.kemenag.go.id/ diakses tanggal 23 Maret 2015 pukul 19.34

Mirza, Wahyu. (2014). Profesionalisme Kepala Sekolah. Online: http://www.m-edukasi.web.id/2014/09/profesionalismekepalasekolah.html diakses tanggal 23 Maret 2015 pukul 21.25

Satria, Gosaria. (2009). Pengertian wewenang. Online:http://satriagosatria.blogspot.com/2009/12/pengertian-wewenang.html, diakses  tanggal 23 Maret 2015 pukul 20.10

http://digilib.sunan-ampel.ac.id/files/disk1/155/hubptain-gdl-mohasroful-7712-3-babii.pdf, diakses tanggal 23 Maret 2015 pukul 19.39

"Hanya Ada satu Ulat yang bermanfaat dan bersahabat yaitu Sahabat Ulat"

Salam Ulat




Posting Komentar

0 Komentar

Penayangan bulan lalu

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Pengikut

Hanya Ada satu Ulat yang bermanfaat dan bersahabat yaitu Sahabat Ulat>>>Stay Safe, Keep Clean,Social Distancing, Fight Covid-19